BREAKING NEWS


 

Nasionalisme Marhaen dalam Balutan Sejarah: Ideologi Modern Menghindari Label Agama dalam Politik Global


Oleh: Martin Sembiring

*I. Pendahuluan: Tiga Wajah Diplomasi Dunia*

Di panggung internasional, identitas sebuah negara ditentukan oleh narasi yang mereka pilih. Ada negara yang menggunakan sejarah sebagai legitimasi, ada yang menggunakan kemanusiaan sebagai jembatan, namun ada pula yang masih terjebak dalam simbolisme label agama. Dalam perspektif Nasionalisme Marhaen, kedaulatan sejati lahir dari akar bumi, sejarah, dan pembelaan terhadap martabat manusia yang konkret, bukan sekadar klaim teologis yang abstrak.

*II. Israel: Kitab Suci sebagai "Manuskrip Sejarah"*

Israel secara konsisten menghindari label "Agama Yahudi" sebagai motor politik global. Mereka memposisikan kitab suci sebagai referensi sejarah bangsa dan bukti arkeologis. Dengan narasi "Sejarah Bangsa," mereka berbicara dalam bahasa hukum internasional dan hak penduduk asli (indigenous rights). Ini adalah strategi ideologi modern agar klaim mereka tetap memiliki pijakan rasional di mata dunia sekuler.

*III. Vatikan: Melampaui Ajaran, Menuju Kemanusiaan*

Vatikan menunjukkan diplomasi inklusif dengan tidak menonjolkan "Ajaran Agama" secara eksklusif. Mereka menggunakan narasi Kemanusiaan dan Cinta Kasih. Melalui bukti karya nyata para Santa dan Santo, Vatikan menggunakan "Bahasa Kasih" sebagai soft power yang menembus batas-batas iman, mengetuk nurani universal di panggung dunia tanpa harus memaksakan dogma.

*IV. Kontras Diplomasi: OKI dan Keterbatasan Ruang Gerak*

Di sisi lain, terdapat organisasi seperti OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) yang secara eksplisit menggunakan identitas agama sebagai basis aliansi politik. Meskipun kuat secara solidaritas internal, model ini sering kali memiliki keterbatasan ruang gerak dalam diplomasi lintas iman yang menuntut netralitas dan solusi teknokratis. Ketika identitas agama menjadi satu-satunya kartu di meja perundingan, ia berisiko terjebak dalam polarisasi yang sulit ditembus oleh bangsa-bangsa dengan latar belakang berbeda.

*V. Ketangguhan Negara: Sejarah, Nilai, dan Karya*

Dalam politik global, sebuah negara dianggap dibenarkan dan tangguh bukan karena jualan label agama yang diragukan universalitasnya, melainkan karena:

  • Kedalaman Sejarahnya: Identitas yang berakar pada fakta historis yang kuat.
  • Nilai dan Karya Kemanusiaannya: Kontribusi nyata bagi peradaban yang dirasakan oleh semua manusia.

*VI. Anomali Indonesia: Kosmetik Agama vs. Kehampaan Pancasila*

Di tengah model-model diplomasi tersebut, Indonesia menunjukkan anomali yang memprihatinkan. Sebagai bangsa yang lahir dari rahim Nasionalisme Marhaen—yang seharusnya mengutamakan kedaulatan rakyat kecil dan kemandirian—kita justru sering terjebak dalam kosmetik identitas. Di dalam negeri, kita sangat gemar membawa label agama dalam setiap jabatan dan amanah. Namun, sering kali label tersebut hanya menjadi hiasan sumpah jabatan yang dikhianati oleh perilaku koruptif atau kebijakan yang tidak memihak rakyat kecil (si Marhaen).

Ironisnya, di panggung dunia, Indonesia sering kali "lupa" membawa Pancasila sebagai solusi ideologis. Kita lebih sering tampil hanya sebagai "Negara Muslim Terbesar" daripada sebagai "Negara Pancasila" yang menawarkan jalan tengah bagi peradaban. Kita sibuk dengan label agama, namun abai pada transformasi nilai Pancasila menjadi kebijakan nyata yang diakui dunia.

*VII. Jejak Universalitas Pahlawan Nasional*

Kritik ini semakin tajam jika kita menengok kembali para Pahlawan Nasional kita:

  • Soekarno: Mengusung Marhaenisme dan Internasionalisme. Baginya, nasionalisme Indonesia adalah "taman sari" dunia, bukan eksklusivitas identitas.
  • Mohammad Hatta & Sutan Sjahrir: Berjuang dengan etika politik dan argumen martabat manusia yang diakui dunia internasional.

*VIII. Kesimpulan: Kekuatan Narasi yang Berakar*

Sebuah bangsa akan memiliki posisi tawar yang kuat jika ia memiliki narasi yang jelas. Israel dengan Sejarah Bangsa, Vatikan dengan Karya Kemanusiaan, dan Indonesia seharusnya dengan Nasionalisme Marhaen berbasis Pancasila. Kedaulatan tidak akan datang dari jualan label agama yang sempit, melainkan dari keberanian kita menjalankan amanah pahlawan untuk menjadi bangsa yang beradab.

Indonesia harus kembali menghidupkan Pancasila sebagai identitas nasional yang nyata—sebuah karya kemanusiaan universal yang menjadi sumbangsih kita bagi perdamaian dunia.

*Referensi Bacaan*

  • Bahr, A. (2014). The Myth of the Secular: Religion and Politics in the Twentieth Century.
  • Byrnes, T. A. (2001). Transnational Catholicism in Post-Cold War Europe.
  • Finkelstein, I., & Silberman, N. A. (2001). The Bible Unearthed: Archaeology's New Vision of Ancient Israel.
  • Soekarno. (1964). Di Bawah Bendera Revolusi.
  • - Sjahrir, S. (1945). Perjuangan Kita.
  • - Vatican Press. (2015). Encyclical Letter Laudato Si’.
  • - Yitzhak, R. (2019). Historical Narrative and National Identity in Israel. ***

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar