Taqwa Bukan Sekadar Ritual, Tapi Perilaku Nyata
YOGYAKARTA (GEBRAK24.com) – Mengisi Khutbah Idul Fitri 1447 H, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman menyebut bahwa berakhirnya bulan Ramadan dan dimulainya bulan Syawal merupakan refleksi penting dalam pembinaan dan peningkatan ketakwaan.
“Begitu indah ibadah ramadan yang telah kita lalui. Latihan sabar kita, salat malam kita, shadaqah kita, tadarus Al Quran dan semangat memakmurkan masjid adalah satu bentuk upaya kita meningkatkan ketakwaan dan mengasihi sesama. Semua itu harus kita jaga agar terus menjadi amaliah harian kita,” ujar pada Jumat (20/3).
Berakhirnya Ramadan, sebutnya, merupakan ruang untuk perenungan sejenak, sejauh mana ketakwaan kita dan buah apa yang telah kita petik sebagai lulusan madrasah imaniyah.
Dalam khutbahnya ia bertanya
“Benarkah ijazah taqwa benar-benar telah kita sandang?” tanya Agus.
Bagi Agus, pribadi muttaqin (individu yang bertaqwa) adalah pribadi yang memiliki karakter mulia dan dihiasi dengan kemuliaan akhlaq.
Ia menyebut ciri-ciri orang bertaqwa adalah ia yang selalu berusaha bertindak benar, berbuat jujur, adil, terpercaya, dan melakukan segala kebaikan.
Merujuk pada hal itu, ia menyoroti Hadist Riwayat Bukhari. Dari Abu Hurairah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan,” (HR. Bukhori no. 1903).
Maka dari itu, di kehidupan setelah bulan ramadan dan momentum Idul Fitri 1447 H ini, ia berharap bahwa umat muslim semakit mengaktualisasikan nilai dan perilaku taqwa dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan universal.
“Dalam suasana kehidupan yang dilanda krisis moral maka sangat penting menentukan ajaran tentang pencerahan akhlaq mulia. Baik dalam perkataan, sikap, dan perbuatan. Islam dengan tegas mengajarkan nilai-nilai amanah, adil, ihsan, kasih sayang, dan kemuliaan lainnya, maka ini perlu kita sadarkan kembali dalam kehidupan yang seringkali paradoks,” tegasnya.
“Dalam kenyataan agama, ini tidak sepenuhnya menunjukkan konsistensi. Sebaliknya, bahkan terjadi hal-hal yang bertentangan antara nilai ajaran dengan perilaku pemeluknya,” tambah Agus.
Menutup khutbahnya, Agus menguti QS. Al A’raf Ayat 96 yang menegaskan:
وَلَوۡ اَنَّ اَهۡلَ الۡقُرٰٓى اٰمَنُوۡا وَاتَّقَوۡا لَـفَتَحۡنَا عَلَيۡهِمۡ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالۡاَرۡضِ وَلٰـكِنۡ كَذَّبُوۡا فَاَخَذۡنٰهُمۡ بِمَا كَانُوۡا يَكۡسِبُوۡنَ ٩٦
“Apabila penduduk suatu negeri benar-benar beriman dan bertaqwa, niscaya aku bukakankepadanya barokah dari langit dan bumi. Tetapi mereka yang mendustakan ayat-ayat kami, maka kami siksa mereka disebabkan karena perbuatannya,” (QS. Al A’raf: 96).
“Akhirnya, marilah kita memohon kepada Allah semoga senantiasa diberi hidayah, sehingga dalam menghadapi hidup yang semakin sulit ini kita tetap menjalani dengan terus membawa bendera kebenaran,” pungkasnya. (Eri)


