BREAKING NEWS


 

Kim Dong-hyun, Aktivis Korea Selatan Laporkan Alami Penyiksaan dan Ditelanjangi Israel di Kapal Gaza

Aktivis Kim Ah-hyun (alias Haecho) dan Kim Dong-hyun (kanan), yang ditangkap oleh pasukan Israel saat berada di atas kapal bantuan yang menuju Gaza, menjawab pertanyaan dari wartawan setelah tiba di Bandara Internasional Incheon

SEOUL (Gebrak24.com)
Kim Dong-hyun, 34 tahun aktivis Korea Selatan yang ditangkap militer Israel saat berada di kapal menuju Jalur Gaza, mengaku mengalami pemukulan, penyiksaan, dan perlakuan kasar selama penahanan.

Dalam wawancara telepon dengan Kyunghyang Shinmun pada 22 Mei 2026, Kim mengatakan ia “dipukuli dan diseret sambil diikat” dan “tentara Israel terus mengarahkan senjata mereka dan bahkan menembakkan peluru karet.”

Kim tiba kembali di Bandara Internasional Incheon sekitar pukul 06.24 pagi bersama Kim Ah-hyun, 27 tahun penyanyi dengan nama panggung Haecho, yang juga ditangkap dan kemudian dibebaskan.

Kesaksian Luka dan Perawatan Medis

Kim menyatakan mengalami cedera pada pergelangan tangan akibat borgol, memar di wajah, lengan, dan kepala akibat pemukulan.

Ia menyebut rumah sakit di Seoul mendiagnosisnya menderita rhabdomyolysis akibat robekan otot yang parah.

“Dokter mengatakan saya perlu dirawat di rumah sakit dalam jangka panjang, tetapi saya sempat keluar sebentar karena jadwal. Saya rasa saya perlu dirawat kembali besok atau lusa,” ujarnya.

Kim menjalani perawatan di Rumah Sakit Nokseong, Jungnang-gu, Seoul, setelah tiba di Korea.

Kondisi Penahanan di Kapal Penjara

Militer Israel menyita kapal yang ditumpangi Kim pada 18 Mei 2026 di Laut Mediterania, 463 km dari Jalur Gaza. 

Menurut kesaksiannya, ia dan penumpang lain dipindahkan ke perahu karet lalu ke kapal penjara yang disebutnya kapal perang besar yang diubah menjadi penjara.

Kim ditahan di kapal tersebut sekitar dua hari. Ia mengaku diangkut dengan tangan terikat, digeledah telanjang, lalu diseret ke area yang dikelilingi kontainer.

“Sekitar 160 orang yang ditangkap hanya menggunakan beberapa toilet selama dua hari dan tidak diberi pakaian hangat meskipun cuaca sangat dingin,” katanya.

Ia juga menyebut tentara Israel terus mengarahkan senjata dan meriam air, serta menembakkan peluru karet yang menyebabkan luka.

Kim menyebut ada dua kapal penjara, dan kondisi di kapal lain yang dipenuhi rumput laut disebut jauh lebih buruk.

Proses Deportasi dan Penyiksaan

Kim mengatakan orang-orang ditahan dengan tangan diikat dan dipaksa berlutut selama proses yang disebut “prosedur deportasi.”

“Mereka memperlakukan saya dengan kasar, mengikat tangan saya di belakang punggung, menarik kepala saya ke depan, dan berulang kali memukul kepala saya seolah-olah itu adalah permainan,” ujarnya. 

Ia menambahkan bahwa saat diinterogasi di kantor imigrasi, ia diseret ke sana kemari, dan “seluruh proses itu terasa seperti bentuk penyiksaan.”

Kim juga mengaku diejek oleh tentara Israel. Ia mengenakan kaus dengan pesan menentang Israel, yang kemudian dicoret-coret dan ditulisi “Israel” oleh petugas.

 “Mereka memukul kepala saya dan mengatakan sesuatu yang mungkin saya sebut ‘bodoh,’” katanya.

Rencana Tindak Lanjut dan Respons Pemerintah

Kim menyatakan akan memberikan kesaksian lebih lanjut tentang kekerasan yang dialaminya. Ia juga berencana mengangkat isu pembatalan paspor Haecho, menyebut pemblokiran hak warga untuk bergerak bebas melalui Undang-Undang Paspor perlu dipertanyakan.

Mengenai tujuan perjalanan ke Gaza, Kim mengatakan, “Saya menyadari opini publik yang negatif, tetapi saya harap Anda akan mempertimbangkan kembali mengapa kami ingin pergi meskipun demikian.” Ia menyebut perjalanan itu sebagai upaya merenungkan kekerasan di Palestina dan menghubungkannya dengan sejarah Korea.

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyatakan menanggapi kesaksian warganya dengan sangat serius.

“Kami telah menyampaikan keprihatinan mendalam kami kepada pihak Israel dan akan mengambil tindakan yang sesuai dengan tingkat keseriusan masalah ini tergantung pada hasil verifikasi fakta,” kata kementerian.

Israel sebelumnya membantah tuduhan kekerasan terhadap para relawan Global Sumud Flotilla 2.0 dan menyatakan semua tahanan ditahan sesuai hukum. (Eri)



Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar