Percakapan Imajiner dengan Reje Linge tentang Taman Budaya Gayo
0 menit baca
L K Ara
Malam turun perlahan di Buntul Linge. Kabut merambat dari lembah, membungkus batu-batu tua yang menyimpan jejak kerajaan berabad-abad. Di hadapan makam leluhur, aku duduk seorang diri.
Angin tiba-tiba berembus.
Lalu terdengar suara yang tidak keras, tetapi mampu mengguncang hati.
“Mengapa engkau datang, anak Gayo?”
Aku terkejut.
“Apakah… Reje?”
“Orang-orang memanggilku begitu. Aku hanya penjaga amanah yang dititipkan zaman.”
Aku menunduk.
“Reje, aku ingin bertanya.”
“Bertanyalah.”
“Perlukah kita membangun Taman Budaya Gayo?”
Suara itu terdiam lama.
Lalu terdengar lirih.
“Mengapa pertanyaan itu baru kau ajukan sekarang?”
Aku terdiam.
“Bukankah selama ini kalian lebih sibuk membangun gedung daripada membangun ingatan?”
Aku menelan ludah.
“Tetapi bukankah budaya hidup di tengah masyarakat?”
Reje tersenyum.
“Benar. Tetapi ingat…”
“Rumah yang tidak memiliki halaman akan kehilangan tempat bermain anak-anaknya.”
“Bangsa yang tidak memiliki rumah budaya akan kehilangan tempat pulang sejarahnya.”
Aku memandang langit.
“Apakah sebuah taman budaya dapat menyelamatkan kebudayaan?”
Reje menggeleng perlahan.
“Tidak.”
“Lalu?”
“Yang menyelamatkan budaya adalah manusianya.”
“Taman budaya hanyalah pelita.”
“Kalau tidak ada orang yang menyalakannya, ia hanya bangunan.”
“Kalau tidak ada penyair yang membaca puisi, ia hanya aula.”
“Kalau tidak ada ceh yang mendendangkan Didong, ia hanya panggung.”
“Kalau tidak ada anak-anak belajar bahasa Gayo, ia hanya tembok.”
Aku semakin terdiam.
“Kalau begitu… mengapa tetap harus dibangun?”
Reje memandang ke arah pegunungan.
“Karena setiap peradaban besar selalu mempunyai rumah bagi ingatannya.”
“Di sanalah manuskrip disimpan.”
“Di sanalah tari diwariskan.”
“Di sanalah syair dipelajari.”
“Di sanalah bahasa dipeluk.”
“Di sanalah orang-orang tua bertemu anak-anak yang hampir lupa asal-usulnya.”
Kabut semakin tebal.
Aku bertanya lagi.
“Apakah Gayo sedang kehilangan itu?”
Suara Reje terdengar lebih pelan.
“Lihatlah sendiri.”
“Banyak anak mengenal dunia melalui layar.”
“Tetapi tidak mengenal asal usul marga.”
“Mereka hafal lagu-lagu yang jauh.”
“Tetapi tidak mengenal sebuku.”
“Mereka fasih bahasa asing.”
“Tetapi gagap menyebut nama leluhurnya.”
Aku menunduk.
“Apakah kita terlambat?”
Reje tersenyum.
“Selama masih ada yang bertanya, belum terlambat.”
“Tetapi jangan terlalu lama.”
“Sebab budaya tidak mati sekaligus.”
“Ia mati sedikit demi sedikit.”
“Ketika bahasa ditinggalkan.”
“Ketika manuskrip dimakan rayap.”
“Ketika penyair berhenti menulis.”
“Ketika penari kehilangan panggung.”
“Ketika sejarah dianggap beban.”
Angin berhenti.
Suasana menjadi sunyi.
Aku bertanya untuk terakhir kalinya.
“Jika Taman Budaya Gayo benar-benar berdiri… apa yang paling ingin Reje lihat?”
Suara itu terdengar seperti doa.
“Aku ingin melihat seorang anak kecil masuk sambil berbahasa Gayo.”
“Keluar membawa ilmu.”
“Kembali membawa cinta.”
“Bukan sekadar bangga menjadi orang Gayo.”
“Tetapi juga bersedia menjaga Gayo.”
Kabut perlahan menghilang.
Suara itu lenyap bersama desir pinus.
Yang tersisa hanyalah kalimat yang terus menggema di dadaku—
“Bangunlah Taman Budaya bukan untuk memuliakan masa lalu, melainkan agar masa depan tidak kehilangan asal-usulnya.”
Di Buntul Linge, tempat jejak kerajaan Gayo dikenang hingga kini, sejarah terus mengingatkan bahwa warisan adat hanya akan hidup jika terus dirawat oleh generasi yang datang kemudian. **"

