Garam Bagi Rakyat Jelata: Menamukan Hikmah di Balik Rahmat
0 menit baca
Oleh: Martin Sembiring (Inisiator Dewan Hikmat Kebijaksanaan Pancasila - DEHIKPAN)
Dalam hiruk-pikuk kontestasi politik yang sering kali hanya mengejar angka dan prosedur, kita kerap kehilangan sesuatu yang paling mendasar: hulu dari kepemimpinan itu sendiri. Menjadi seorang pemangku kebijakan, khususnya dalam Dewan Hikmat Kebijaksanaan Pancasila (DEHIKPAN), bukanlah sekadar pencapaian karier, melainkan sebuah peristiwa "Rahmat yang Mengagumkan" (Amazing Grace).*Kepemimpinan yang Berhikmat Harus Dimulai dari Sebuah Hati yang Kagum*
Kekaguman ini lahir dari kesadaran bahwa jabatan adalah amanah ilahi yang diberikan kepada kita yang tak luput dari kelemahan. Dalam tradisi Kristiani, hal ini tercermin dalam kidung Puji Syukur No. 600, yang mengakui bahwa manusia yang pernah "sesat dan buta" dipulihkan oleh rahmat untuk sebuah tujuan mulia.
*Mandat Kerakyatan: Suara Rakyat Jelata*
Esensi dari hikmat bukanlah kecerdasan intelektual yang mengawang-awang di menara gading, melainkan keberpihakan yang nyata pada Rakyat Jelata. Sejarah mencatat bahwa pemimpin yang kehilangan relevansi adalah mereka yang kehilangan "bau" keringat rakyatnya. Jati diri Dewan Hikmat harus terpaku pada mandat profetik yang melintasi batas agama.
*"Inilah Aku": Hikmat di Atas Retorika*
Sering kali, panggung politik dipenuhi oleh "kata-kata hikmat yang meyakinkan" namun hampa makna. Rasul Paulus dalam 1 Korintus 2:1-5 menawarkan antitesis: kepemimpinan yang hadir dalam "kelemahan dan gentar." Ini adalah sebuah pengakuan jujur—Inilah Aku—bahwa seorang pemimpin harus mengandalkan kekuatan nurani dan ruhaniah, bukan sekadar kelicikan retorika.
*Menjadi Garam dan Terang Pancasila*
Akhirnya, jati diri anggota Dewan Hikmat harus mengerucut pada metafora abadi: menjadi Garam dan Terang (Matius 5:13-16). Sebagai Garam, kita berfungsi sebagai pengawet moral. Di tengah arus pragmatisme yang sering kali membusukkan integritas, kita ditantang untuk tetap "asin"—menjaga kejujuran dan mencegah pembusukan di dalam sistem birokrasi. Sebagai Terang, kita harus menjadi pemberi arah.
*Referensi Spiritual & Ideologis*
- Buku Puji Syukur No. 600 & 592 (Komisi Liturgi KWI)
- Alkitab: Yesaya 58:7-10; 1 Korintus 2:1-5; Matius 5:13-16
- Al-Qur’an: QS. Ali ‘Imran: 26; QS. Al-Ma’un: 1-3
- Kitab Suci Lintas Iman: Bhagavad Gita (Hindu); Sigalovada Sutta (Budha); Lun Yu (Khonghucu)
- Dokumen Prinsip Dasar DEHIKPAN (2026). ****
