Opini Rakernas 2026: Anamat Reformasi '98 Dan Asta Cita Nusantara
*Pendahuluan: Antara Jeda Reformasi dan Lonjakan Nusantara*
Dua puluh delapan tahun telah berlalu sejak pekik "Reformasi" menggema di jalanan pada 1998. Kita telah melewati empat kali amandemen UUD 1945 yang bertujuan membatasi kekuasaan, namun jujur harus kita akui: di tengah kebebasan yang kita hirup, si Marhaen seringkali tertinggal di lorong-lorong sempit kemajuan. Hari ini, di RAKERNAS 2026, kita berdiri di ambang pintu Asta Cita Nusantara. Ini bukan sekadar visi-misi politik, melainkan sebuah ikhtiar besar untuk mengalibrasi ulang arah bangsa—membasuh wajah Nusantara yang sempat kusam oleh liberalisme yang kebablasan, dan mengembalikannya pada khitah kedaulatan yang sejati.
*1. Pisau Marhaenisme: Menggugat Demokrasi Tanpa Nasi*
Jika kita membedah hasil amandemen UUD 1945 dengan pisau analisis Marhaenisme dan Marxisme, kita menemukan paradoks besar. Kita berhasil membangun prosedur demokrasi, namun kita sering gagal membangun demokrasi ekonomi. Struktur politik hasil reformasi cenderung menjadi karpet merah bagi akumulasi modal (borjuasi), sementara rakyat kecil hanya menjadi penonton lima tahunan. Amanat Reformasi sejati tidak boleh berhenti pada "kebebasan bicara", ia harus sampai pada "kebebasan dari kelaparan."
*2. Asta Cita: Reinkarnasi Roh USDEK dalam Wadah Modern*
Asta Cita yang diusung Presiden Prabowo Subianto adalah jawaban atas dahaga keadilan sosial. Jika USDEK (UUD '45, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia) adalah senjata Bung Karno melawan kolonialisme, maka Asta Cita adalah perisai kita melawan neokolonialisme ekonomi:
- Hilirisasi adalah bentuk "Ekonomi Terpimpin" modern agar kekayaan alam tidak lagi "dirampok" secara legal melalui ekspor bahan mentah.
- Swasembada adalah wujud "Berdikari" yang paling nyata.
- Persatuan Nasional adalah antitesis dari kegaduhan demokrasi liberal yang melemahkan sendi-sendi bangsa.
*3. Hilirisasi Berwajah Kemanusiaan: Menyapa Para "Anawim"*
Hilirisasi tidak boleh hanya menjadi mesin pencetak profit bagi segelintir konglomerat. Dalam semangat Sabda Bahagia yang sering direnungkan oleh para Tokoh Katolik, politik dan ekonomi harus memiliki "preferential option for the poor" (keberpihakan pada yang miskin). Kita menuntut Hilirisasi Berwajah Kemanusiaan yang menyentuh para Anawim (rakyat kecil yang terpinggirkan):
- Hilirisasi Inklusif: Rakyat (Marhaen) melalui koperasi harus memiliki saham dalam industri-industri strategis.
- Pendidikan Pembebasan: Sekolah vokasi harus dibangun di samping pabrik-pabrik hilirisasi agar anak-anak petani tidak hanya menjadi penonton, tapi menjadi penggerak utama.
- Martabat Buruh: Ekonomi Nusantara harus menghargai peluh buruh dengan upah yang manusiawi, bukan sekadar upah minimum yang mencekik.
*4. Penutup: Sabda Bahagia sebagai Kompas Moral*
Sebagaimana ajaran sosial dalam spirit Sabda Bahagia: "Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dikenyangkan." Kebenaran di sini adalah Keadilan Sosial. RAKERNAS 2026 harus menjadi garda terdepan untuk memastikan bahwa Asta Cita Nusantara tidak jatuh menjadi otoritarianisme baru, tetapi menjadi jalan keselamatan bagi rakyat. Kita ingin Indonesia yang kuat secara militer, mandiri secara ekonomi, namun tetap lembut dan penuh belas kasih kepada rakyatnya sendiri.
Merdeka! Nusantara Berdaulat! ***
