Memperingati Nuzul Quran
0 menit baca
Nuzulul Quran menjadi momen istimewa yang dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia. Peristiwa turunnya Al-Qur’an bukan hanya sejarah, tetapi juga pengingat akan petunjuk hidup yang diberikan Allah kepada manusia. Di bulan Ramadan, Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat muslim di dunia. Momen ini seharusnya bukan hanya diperingati, tetapi juga dijadikan waktu untuk merenung dan memperbaiki diri. Lalu, bagaimana sejarah Nuzulul Quran dan bagaimana kita bisa mengambil hikmah dari peristiwa ini? Yuk, kita bahas lebih dalam!
Sejarah Nuzulul Quran dan Maknanya
Nuzulul Quran adalah peristiwa ketika wahyu pertama diturunkan kepada Rasulullah saw. melalui Malaikat Jibril. Dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 185, Allah berfirman, “Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan tentang petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)” (QS. Al-Baqarah: 185).
Peristiwa Nuzulul Quran terjadi di Gua Hira, ketika Nabi Muhammad saw. sedang bertafakur, merenungi kehidupan. Lalu kemudian, malaikat Jibril datang membawa wahyu pertama, yaitu:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan pena, mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5)
Ayat ini bukan hanya perintah untuk membaca secara harfiah, tetapi juga seruan untuk mencari ilmu dan memahami kebenaran. Membaca realitas, membaca kondisi masyarakat, dan tanda-tanda kebesaran alam semesta raya. Dari sini, kita bisa melihat bahwa Islam menempatkan ilmu pengetahuan sebagai hal
Umat Islam di Indonesia biasa memperingati Nuzulul Quran pada malam 17 Ramadan. Meskipun dalam sejarah tidak ada catatan pasti mengenai tanggal tepatnya kapan Al-Qur’an diturunkan, mayoritas ulama sepakat bahwa wahyu pertama turun pada salah satu malam di bulan Ramadan. Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Al-Itqan fi ‘Ulumil Qur’an menyebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur selama 23 tahun, dimulai pada bulan Ramadan.
Selain itu, ada juga pandangan yang mengaitkan turunnya Al-Qur’an dengan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dalam Al-Qur’an Al-Qadr ayat 1-3, Allah berfirman “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”
Karena itu, peringatan Nuzulul Quran seharusnya tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga waktu untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dan memahami isi Al-Qur’an.
Keutamaan Malam Nuzulul Quran dan Alasan Al Quran Turun Secara Berangsur
Refleksi Diri di Momen Nuzulul Quran 2026
Bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah, dan peristiwa Nuzulul Quran 2026 ini penting untuk menjadi pengingat agar kita semakin dekat dengan kitab suci. Sudah sejauh mana kita membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an? Banyak dari kita yang mungkin masih jarang menyentuh mushaf kecuali saat Ramadan tiba. Padahal, Al-Qur’an adalah pedoman hidup yang seharusnya kita jadikan pegangan setiap hari.
Salah satu cara terbaik untuk memaknai Nuzulul Quran adalah dengan meningkatkan interaksi kita dengan Al-Qur’an. Tidak harus langsung menghafal ayat dalam jumlah yang besar, tetapi kita bisa mulai dengan membaca satu halaman setiap hari dan memahami tafsirnya. Jika kita belum lancar membaca, tidak ada salahnya belajar secara perlahan.
Rasulullah saw. Bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an dan mahir dalam membacanya, maka dia akan bersama para malaikat yang mulia. (Usman Cut Raja)



