BREAKING NEWS


 

Sedia Aku Sebelum Hujan Tiba: Membumikan Kerajaan Surga di Tengah Budaya Penghakiman

 


Oleh: Ir. Martin Sembiring, S.T., M.T.

Dunia hari ini sering kali menyerupai sebuah tribun pengadilan terbuka tanpa hakim yang adil. Di jagat digital maupun realitas sosial, "batu-batu" penghakiman begitu mudah melayang. Satu noda masa lalu atau satu fitnah yang belum teruji, cukup bagi kerumunan untuk bersorak menuntut ekskomunikasi sosial sesamanya. Kita hidup dalam cuaca kemanusiaan yang ekstrem: terkadang membeku oleh ketidakpedulian, terkadang membara oleh amarah dan kebencian.

Dalam situasi ini, sebuah pertanyaan eksistensial menyeruak: Di mana "Kerajaan Surga" yang sering dijanjikan itu? Apakah ia hanya sekadar utopia eskatologis yang jauh di balik awan, ataukah ia bisa hadir secara organik di tengah carut-marutnya hubungan manusia?

Jeda Belas Kasih dalam Panggung Penghakiman

Refleksi dari Bapa Uskup Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap, dalam menyongsong Pekan V Prapaskah, menyodorkan dua fragmen kemanusiaan yang sangat relevan. Kita melihat Susana yang nyaris mati karena fitnah para pemuka agama, dan seorang perempuan yang tertangkap basah berzina, siap dirajam oleh mereka yang merasa dirinya paling suci. Keduanya berdiri sendirian di tengah kerumunan yang haus akan "keadilan" yang semu.

Namun, di sana hadir sebuah "jeda". Daniel muncul dengan keberanian intelektual untuk membongkar kebohongan, dan Yesus hadir dengan tindakan yang melampaui teks hukum: Ia menunduk, menulis di tanah, dan memukul balik hati nurani para penuduh. “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu.” Inilah titik tolak Kerajaan Surga di bumi. Ia hadir bukan saat semua manusia tiba-tiba menjadi suci, melainkan saat ada jiwa yang memilih untuk berhenti melempar batu. Ia hadir saat logika penghukuman digantikan oleh dialektika pemaafan yang memulihkan martabat.

Cinta sebagai "Payung" Sebelum Badai

Jika ditarik ke dalam relasi personal dan kebangsaan, konsep ini menemukan bentuknya yang paling puitis dalam ungkapan: "Sedia Aku Sebelum Hujan". Ini bukan sekadar diksi romantis, melainkan komitmen etis yang mendalam. Mencintai sesama manusia—dalam ikatan keluarga maupun kewarganegaraan—berarti bersiap menjadi pelindung sebelum badai kesulitan atau badai penghakiman menerjang.

Sebagaimana esensi pemaafan dalam tradisi Kristiani yang sering didialogkan oleh tokoh lintas agama seperti Habib Jafar, inti dari "Kerajaan" ini adalah kemampuan mengampuni tanpa syarat. Saat kita mampu berkata, "Jika tak setara, kumaafkan," kita sedang memindahkan suasana takhta Tuhan ke dalam ruang tamu rumah kita dan ruang publik kita. Kita memberikan kehangatan (keamanan) bagi orang lain, meski kita sendiri mungkin harus menanggung dinginnya pengorbanan.

Menghadirkan Surga di Ruang Publik

Masa Prapaskah bagi umat Kristiani, atau masa refleksi bagi setiap insan, adalah momentum untuk memeriksa kembali "bekal" apa yang kita siapkan dalam peperangan hidup. Apakah kita sedang mengasah batu untuk dilempar ke arah lawan bicara atau pasangan yang bersalah, ataukah kita sedang menyiapkan payung bagi mereka yang sedang kehujanan oleh masalah?

Menghadirkan Kerajaan Surga di bumi berarti berani menjadi "Pamong"—seorang penjaga nurani yang tidak membiarkan sesamanya hancur oleh masa lalu. Ketika kita mampu menatap mata seseorang yang terjatuh dan berkata, “Aku pun tidak menghukum engkau,” pada detik itulah surga telah turun ke bumi.

Surga itu ternyata tidak jauh. Ia ada pada tangan yang merangkul saat hujan tiba, dan pada hati yang memilih untuk memaafkan ketika dunia justru menuntut pembalasan. Karena pada akhirnya, Kerajaan Surga bukanlah soal siapa yang paling suci, melainkan siapa yang paling mampu mencintai di tengah badai. ***

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar