"Opini" Titik Temu Terang Surgawi: Gotong Royong Iman Islam-Katolik dalam Bingkai Pancasila
Oleh: Martin Sembiring_Pamong Pancasila_
Medan I Gebrak24.com - Sejak kejatuhan manusia pertama, tercipta jurang pemisah antara kesucian Allah dan keterbatasan manusia. Dalam kondisi itu, manusia kehilangan arah namun terus merindukan hadirat Penciptanya. Allah, dalam keadilan dan kasih-Nya, tidak membiarkan manusia tanpa petunjuk. Melalui sejarah panjang, Allah berfirman lewat perantara malaikat dan para nabi untuk mempersiapkan jalan keselamatan.
Dalam konteks keindonesiaan, Pancasila hadir sebagai payung besar yang menaungi pencarian spiritual ini. Sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” bukan sekadar kalimat formal. Ia adalah pengakuan bahwa seluruh rakyat Indonesia sedang berjalan menuju satu titik temu: *Terang Surgawi*. Bagi intelektual Islam dan Katolik yang cerdas, perbedaan ritual tidak seharusnya menjadi tembok pemisah, melainkan jembatan untuk saling menyempurnakan dalam pengabdian kepada Sang Pencipta.
*Esensi Sang Firman dan Keselamatan*
Titik temu fundamental antara intelektual Katolik dan Islam terletak pada penghormatan terhadap Sang Firman. Dalam perspektif Katolik, Firman Allah hadir dalam diri Yesus Kristus yang disebut Sang Amin. Otoritas-Nya nyata melalui perbuatan yang melampaui batas kemanusiaan: Ia mengampuni dosa, Mat 9:2; menguasai alam, Mat 8:26-27; hingga membangkitkan orang mati, Luk 7:14.
Selaras dengan itu, intelektual Islam menemukan legitimasi serupa dalam Al-Qur’an. Isa Almasih ditegaskan sebagai _Kalimatullah_, Kalimat Allah, dan Ruh dari-Nya, QS 4:171. Beliau diberi kuasa mukjizat untuk menghidupkan orang mati dengan izin Allah, QS 5:110, dan ditetapkan menjadi saksi atas manusia pada hari Kiamat, QS 4:159. Kehadiran Sang Firman dalam kedua tradisi ini menunjukkan inti pesan Tuhan tetap murni meski dibalut budaya berbeda.
*Kewajiban Saling Menyempurnakan*
Jika kaum intelektualnya cerdas, umat akan bergerak dalam semangat gotong royong untuk saling menyempurnakan. Semangat ini bukan untuk mengaburkan dogma, tetapi untuk fokus pada tujuan akhir yang sama: keselamatan di alam baka. Saling menyempurnakan berarti saling mendukung agar setiap pribadi mampu mendengarkan suara Tuhan dan berpindah dari maut menuju hidup.
Pancasila memberi ruang bagi iman yang hidup untuk tumbuh kuat dan tegar. Kita dipanggil tekun membaca Kitab Suci sesuai agama masing-masing sebagai jalan menuju Terang Surgawi. Bagi tokoh dan intelektual yang masih merasakan ganjalan perdebatan, mari menanggalkan sekat dogma sesaat dan fokus pada tujuan besar di alam baka.
Untuk diskusi lebih lanjut mengenai upaya gotong royong spiritual ini, silakan menghubungi 081260384888.
*Referensi*
- *Al-Qur’anul Karim*: An-Nisa 4:171, Al-Ma’idah 5:110, An-Nisa 4:159.
- *Alkitab*: Matius 8:26-27, 9:2; Markus 1:25, 6:41; Lukas 6:8, 7:14; Yohanes 8:58, 11:43.
- *Kesaksian Para Rasul*: Rasul Petrus, Mat 16:16; Rasul Yohanes, Yoh 1:14; Rasul Paulus, Kol 1:15.
- *Risalah*: _Buku Saku: IMAN yang HIDUP_, Bab I-IV.
- *Ideologi Negara*: Pancasila, Sila Pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”.
*Data Penulis:*
Nama: Martin SembiringProfesi: Pamong Pancasila
Domisili: Medan
Email: martinsembiring@polmed.ac.id
No. HP: 081260384888
*Catatan Redaksi:*
- Panjang naskah: 598 kata, 3.982 karakter dengan spasi.
- Naskah orisinal dan belum pernah dimuat di media lain.
- Penulis bertanggung jawab penuh atas isi artikel. ***


