BREAKING NEWS


 

Jacob Ereste : Hewan Kuban Untuk Perayaan Hari Raya Idhul Adha Sungguh Janggal Disebut Bantuan Sosial


 Banten I Gebrak24.com - Kayaknya artinya memberi  hewan kurban itu seperti mengambil sebagian dari nikmat atau rezeki kita untuk dinikmati oleh orang lain, tanpa perduli siapa saja yang kemudian akan menikmatinya. Artinya, semacam berbagi kebahagiaan dengan menekan egosentrisitas diri dengan memberikan hewan yang kita milik untuk orang lain.

Berbeda ceritanya kalau bantuan, kendati sama harus dilakukan secara ikhlas, tapi tidak seperti kewajiban yang dianjurkan kepada umat Islam yang mampu, seperti menunaikan ibadah haji. Jadi, kalau hewan kurban itu dilakukan dari kas kampung -- sekalipun kita sebagai lurah yang berkuasa di Kampung tersebut, bisa tidak sah, sebab bukan dari kekayaan sendiri. Sekalipun warga masyarakat kampung itu setuju, dsn tidak ada yang protes seperti di negeri Konoha.

Sebab hewan kurban yang abdol untuk diberikan sebagai kurban pasa gari rata Idhul Adha adalah hewan milik sendiri, atau hewan yang dibeli dengan duit kira sendiri. Karena bisa saja hewan kurban yang hendak kita berikan itu hasil dari bisnis yang tidak halal, atau semacam hasil korupsi menilep duit rakyat.

Sekedar untuk pencitraan sangat mungkin upaya memberi hewan kurban itu berhasil dalam pandangan warga masyarakat, terapi secara syariat -- apalagi hakikat -- tidak ada dalam kamus maupun khazanah kaum sufi manapun. Kendati memberi hewan kurban itu agak mirip dengan pemberi bantuan seperti Sembako agar pemerataan ekonomi bisa terkesan sudah dilakukan, toh esensinya tetap berbeda. Sebab memberi hewan kurban pada pada hari raya Idhul Qurban itu landasannya adalah perintah yang dianjurkan agama, sedangkan bantuan itu bertumpu pada keadilan sosial seperti yang termuat dalam UUD 1945.

 Meski sampai sekarang keadilan dan kesejahteraan rakyat Indonesia terus menjadi topik yang digunjingkan, karena belum juga terwujud. Sehingga istilah anak terlantar dan fakir miskin haru diurus oleh negara, masih terus diupayakan sampai hari ini, setelah waktu kemerdekaan di proklamasikan sudah sudah hampi seabad lamanya. Persis seperti hasrat bangsa Indonesia untuk memberantas kebodohan melalui program Sekolah Rakyat yang akan segera muncul di desa-desa terpencil hingga ke lereng-lereng gunung.

Hewan kurban yang disembelih pada hari Rata Idhul Adha adakah cermin keikhlasan, kejujuran dan ketaqwaan, bukan formalitas apalagi hanya sekedar pencitraan. Toh, bila pun pencitraan harus dilakukan, bukankah Pemilu masih cukup jauh, hingga mungkin hasil dari pencitraan itu kelak sudah dilupakan. Maka itu yang penting adakah menghadapi masalah kita hari ini, seperti nilai dollar sedang mengejek makna kemerdekaan dengan angka yang melampaui  17.845.

Jadi ikhlas itu diperlukan untuk melakukan segala sesuatu untuk berkurban, seperti Nabi Ibrahim AS yang jelas-jelas memiliki hak atas Nabi Ismail AS sebagai anaknya yang sah dari perkawinan dengan Siti Hajar atas keikhlasan Siti Sarah untuk dimadu oleh Nabi Ibrahim yang belum memperoleh anak.  Realitasnya setelah Siti Hajar melahirkan Ismail, Siri Sarah pun kemudian melahirkan Ishak. Artinya dari keikhlasan dan ketulusan sungguh akan mendatang hikmah, kebaikan dan keberuntungan seperti yang kemudian diperoleh Nabi Ibrahim AS.

Jadi pengurbanan dalam konteks penyembelihan hewan pada puncak perayaan hari raya Idhul Adha adalah membangun sikap yang jujur, ikhlas dan  hati yang bersih untuk menunaikan tuntunan dan ajaran agama dengan baik dan benar, tidak seperti sedang melakukan aksi atau kegiatan sosial. Sebab dalam pemberian hewan kurban urusannya tidak cuma dapat memperoleh sanksi hukum di dunia, tetapi juga akan mendapat hukuman di akhirat. Jadi jelas memberi dan menyembelih hewan kurban setelah hari raya Idhul Adha akan mendapat ganjaran dari Tuhan.

Memang sungguh dahsyat   untuk sejumlah hewan kurban yang diberikan Presiden sebanyak 1000 lebih jumlahnya itu dengan nilai dana APBN 100 milyar. Sehingga nominal harga hewan yang super gemoy itu rata-rata seharga Rp 100 juta. Bisa saya nilai sebesar itu sudah termasuk ongkos menghantar hewan tersebut dari Jawa Timur misalnya ke Kampung atau ke Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur hingga ongkos pemeliharaan sebelum disembelih dan upah penyembelihannya.

Dan sekiranya sejumlah hewan sebanyak itu dengan nilai yang cukup gede jumlahnya,  kalau benar dimaksudkan sebagai bantuan, maka pasti akan lebih efektif dan efisien diberikan saya dalam bentuk uang. Tapi konon ceritanya pemberian hewan kurban untuk merayakan hari raya Idhul Adha, sungguhkah masih relevan dan layak  untuk disebut pemberian hewan kurban ? 

Wallahu alam 

Banten, 29 Mei 2026

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar