Leuser Meratap untuk Wakilnya
0 menit baca
Umar A Pandrah
I.
Gunung di gunduli, hutan ditebangi...Seperti ibu dicabut rambutnya satu-satu,
tanpa ada yang berteriak, tanpa ada yang menahan.
Kau diam di gedung tinggi, menandatangani angka,
sementara akar-akar tua menjerit di bawah tanah,
memanggil namamu dulu kami bisikkan sebagai doa.
II.
Serambi Mekkah menangis malam ini.
Adzan subuh menggema, tapi kau tak dengar.
Telingamu penuh oleh gemerincing janji yang kau khianati sendiri.
Leuser dulu tempat kami titipkan oksigen dan harapan.
Sekarang ia hanya menyisakan lumpur,
turun bersama air mata tanah saat hujan datang.
III.
Wahai wakil dari tanah syahid...
kau dipilih dari barisan janda menunggu pulang,
dari anak yatim hafal doa sebelum hafal dunia.
Lalu kau lupa.
Lupa bahwa kursi itu pinjaman dari kubur massal,
pinjaman dari langit pernah menurunkan tsunami
untuk mengajar kami: yang tinggi akan diratakan.
IV.
Kau datang saat bencana, bawa kamera dan prihatin.
Kau peluk bahu sudah kau biarkan kedinginan.
Kau ucap “kami bersama rakyat” di depan lensa,
tapi saat hutan memohon napas, kau paling cepat menoleh ke arah lain.
Air bah bukan hukuman.
Ia hanya tangis bumi tak sanggup lagi menahan luka
kau biarkan menganga, demi angka pertumbuhan.
V.
Malam di Aceh jadi lebih panjang sekarang.
Bukan karena gelap, tapi karena sunyi kau tinggalkan.
Sunyi tanpa suaramu membela dayah atapnya bocor,
sunyi tanpa suaramu menahan rencong kepentingan
kau hunus diam-diam ke punggung Nanggroe.
VI.
Pulanglah... sebelum terlambat.
Sebelum nama “wakil rakyat Aceh”
hanya jadi epitaf di batu nisan sejarah.
Sebelum gunung kau gunduli
menjadi saksi bisu di akhirat, menunjuk dadamu dan bertanya:
“Saat aku dicabut satu-satu, kau sedang menjaga apa?”
Jika kau tak punya jawaban,
biarlah tangis Leuser yang menjawab untukmu.
Tangis yang lebih nyaring dari semua pidatomu.
Tangis tak akan pernah kau bisa bungkam dengan anggaran.***

