BREAKING NEWS

Mengapa Saya Menulis Puisi “Belajar Menjadi Batu"

 


L. K. Ara


Jakarta I Gebrak24.com - Semakin panjang umur yang diberikan Tuhan kepada saya, semakin saya merasa bahwa hidup bukan perjalanan untuk menjadi seseorang.

Hidup justru perjalanan panjang untuk perlahan-lahan tidak menjadi siapa-siapa.
Tidak menjadi nama.
Tidak menjadi gelar.

Tidak menjadi pujian.
Tidak pula menjadi cerita yang harus terus-menerus dikenang manusia.
Sampai suatu hari kita cukup tenteram hanya dengan menjadi seorang hamba.

Mungkin itulah sebabnya saya menulis puisi Belajar Menjadi Batu.
Saya sedang belajar tentang diam.

Bukan diam karena tidak mempunyai kata-kata, melainkan diam karena mulai mengetahui bahwa tidak semua yang kita ketahui harus diucapkan.

Ada rahasia yang hanya dapat dipahami ketika mulut berhenti berbicara dan hati mulai mendengar.

Dan batu telah lebih dahulu mengetahuinya.

Beribu-ribu tahun ia diam.
Hujan datang.
Ia diam.
Panas datang.
Ia diam.

Lumut tumbuh di tubuhnya.
Ia diam.
Manusia menginjaknya.

Ia tetap diam
Tetapi diamnya bukan kehampaan.
Diamnya adalah zikir yang tidak bersuara.

Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri:
mungkinkah batu sebenarnya lebih pandai berserah daripada manusia? 

Manusia diberi lidah, lalu sibuk menyebut dirinya.
Diberi tangan, lalu sibuk menuliskan namanya.
Diberi kedudukan, lalu ingin meninggalkan monumen.

Diberi umur, lalu takut dilupakan.
Sedangkan batu tidak mempunyai semua itu.
Namun ia tetap berada di tempat yang diperintahkan Tuhan kepadanya.

Di sanalah saya menemukan pelajaran tasawuf yang sederhana:
menjadi batu adalah belajar menjadi hamba.
Bukan menjadi keras.
Bukan kehilangan perasaan.
Justru sebaliknya.

Menjadi begitu lembut di hadapan Tuhan sehingga kita tidak lagi merasa perlu memenangkan diri sendiri di hadapan manusia.

Pada akhirnya, perjalanan manusia mungkin bukan perjalanan menuju kemasyhuran.
Melainkan perjalanan pulang dari “aku” menuju “Dia”.
Sepanjang hidup kita membangun kata:

aku.
Aku penyair.
Aku pejabat.
Aku guru.
Aku orang besar.
Aku berjasa.
Aku pernah melakukan ini dan itu.

Padahal maut kelak datang membawa sebuah penghapus.
Satu demi satu kata setelah “aku” akan dihapusnya.

Jabatan hilang.
Rumah ditinggalkan.
Buku ditutup.
Panggung dibongkar.
Tepuk tangan berhenti.

Nama perlahan menjadi kenangan.
Sampai akhirnya tinggal satu kenyataan:
aku adalah hamba.
Dan barangkali lebih dalam lagi:

bahkan “aku” itu sendiri harus kita letakkan di hadapan-Nya.
Karena itulah batu dalam puisi ini bagi saya bukan benda mati.
Ia adalah guru.

Guru yang tidak mempunyai sekolah.
Guru yang tidak mempunyai murid.
Guru yang tidak memberikan ceramah.

Namun setiap hari ia mengajarkan satu perkara yang amat sulit dilakukan manusia:

rendah hati.
Pohon masih dapat memperlihatkan bunganya.
Burung masih dapat memperdengarkan suaranya.
Gunung masih dapat menunjukkan ketinggiannya.
Tetapi batu?

Ia memilih berada di bawah.

Diinjak.
Dilewati.
Dilupakan.
Anehnya, justru sesuatu yang berada di bawah itulah yang sering menjadi tempat kita berpijak

Dari sana saya mulai memahami bahwa mungkin ukuran kemuliaan di hadapan Tuhan berkebalikan dengan ukuran kemuliaan di hadapan manusia.
Manusia berlomba naik.

Tasawuf mengajarkan turun.
Manusia ingin terlihat.
Tasawuf mengajarkan menghilang.
Manusia ingin namanya disebut.

Tasawuf bertanya:
untuk apa namamu disebut manusia apabila namamu tidak hidup dalam keridaan Tuhan?

Maka Belajar Menjadi Batu sebenarnya adalah percakapan saya dengan umur.
Ketika perjalanan hidup semakin jauh, saya tidak ingin bertanya:
berapa banyak orang mengenal saya?

Saya ingin bertanya:
berapa banyak keakuan yang telah berhasil saya tinggalkan?
Saya tidak ingin menghitung berapa banyak puisi yang pernah saya tulis.

Saya ingin mengetahui apakah puisi-puisi itu pernah membuat hati seseorang sedikit lebih dekat kepada Tuhan.

Sebab pada akhirnya seorang penyair pun harus meletakkan penanya.
Kertas akan menguning.
Buku akan berdebu.

Nama di sampulnya perlahan memudar.
Tetapi apabila satu kata pernah mengetuk sebuah hati dan membuat seseorang mengingat Tuhan—

barangkali kata itu belum mati.
Di situlah saya ingin menjadi batu.
Tidak perlu diletakkan di atas bukit.

Tidak perlu dipahat menjadi patung.
Tidak perlu dituliskan nama saya di atasnya.
Biarkan saja ia berada di pinggir jalan.
Kalau seseorang yang kelelahan dapat duduk sebentar di atasnya,

cukuplah.

Kalau seseorang yang tersesat dapat menjadikannya tanda untuk menemukan jalan pulang,

cukuplah.

Kalau seseorang yang bersedih melihat lumut tumbuh di tubuhnya lalu memahami bahwa kehidupan masih dapat tumbuh bahkan di atas sesuatu yang dianggap mati,
itu pun sudah cukup.

Barangkali itulah yang saya cari melalui puisi ini:
menjadi berguna tanpa harus diketahui.
Sebab semakin dekat manusia kepada Tuhan, seharusnya semakin kecil kebutuhan dirinya untuk diketahui manusia.
Ia seperti akar.
Tidak terlihat,

tetapi menghidupi pohon.
Ia seperti air di dalam tanah.
Tidak meminta dipuji,
tetapi membuat bunga bermekaran.
Ia seperti batu.

Diam,
namun menahan rumah agar tidak roboh.
Dan ketika suatu hari Tuhan memanggil saya pulang,
saya berharap dapat pulang seperti batu itu:

tanpa membawa gelar,
tanpa membawa tepuk tangan,
tanpa membawa kebanggaan bahwa saya pernah menjadi seseorang.
Saya hanya ingin membawa satu pengakuan:

Ya Allah,
aku telah mencoba
menjadi kecil
di hadapan kebesaran-Mu.
Jika sepanjang hidup saya terlalu banyak berbicara,
ampunilah

Jika terlalu ingin dikenang,
ampunilah.
Jika diam-diam masih mencintai nama sendiri,
ampunilah.

Ajarkan saya,
pada sisa perjalanan ini,
menjadi seperti batu—

diam dalam zikir,
teguh dalam sabar,
rendah dalam tawaduk,
dan ikhlas ketika dilupakan.

Sebab akhirnya saya mengerti:
kita tidak perlu menjadi monumen
untuk tinggal dalam keabadian.
Cukuplah menjadi batu kecil

di jalan menuju Tuhan,
tempat seseorang
pernah meletakkan kakinya,
lalu melanjutkan
perjalanan pulang.

Jakarta, Agustus 2026
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image