Opini: Bukan Soal Menang Debat, Tapi Soal Damai
Oleh: Martin Sembiring, Mediator
Medan I Gebrak24.com - Setiap manusia memiliki kerinduan akan kebenaran dan keadilan. Namun, semakin lama seseorang menjalani kehidupan, semakin ia menyadari bahwa kedua hal itu tidak pernah hadir dalam bentuk yang mutlak di hadapan manusia. Yang dianggap benar oleh seseorang belum tentu benar menurut orang lain. Yang dirasakan adil oleh satu pihak dapat dipandang tidak adil oleh pihak yang lain.
Di sinilah letak keterbatasan manusia. Kita memiliki akal untuk menimbang, hati untuk merasakan, dan nurani untuk memilih, tetapi kita tidak memiliki otoritas untuk menetapkan kebenaran dan keadilan yang sempurna. Kebenaran sejati dan keadilan yang mutlak adalah milik Tuhan, Sang Pencipta, yang mengetahui seluruh peristiwa tanpa dibatasi ruang, waktu, maupun kepentingan.
Dalam praktik mediasi, pelajaran ini tampak sangat nyata. Hampir semua pihak datang dengan keyakinan bahwa dirinya benar dan pihak lain salah. Masing-masing membawa versinya sendiri tentang keadilan. Bila mediator ikut terjebak dalam perlombaan menentukan siapa yang paling benar, maka mediasi akan kehilangan jiwanya. Sebaliknya, ketika perhatian diarahkan pada pencarian kesepakatan yang membawa damai, ruang dialog mulai terbuka.
Karena itu, hakikat mediasi bukanlah memutuskan siapa yang benar, melainkan membantu para pihak menemukan jalan hidup bersama yang lebih baik daripada mempertahankan permusuhan. Damai bukan berarti menghapus perbedaan, tetapi mengelola perbedaan dengan kasih, penghormatan, dan kebijaksanaan.
Belas kasih menjadi fondasi yang tidak dapat digantikan oleh kecerdasan atau kekuasaan. Belas kasih lahir dari cinta. Ketika cinta memudar, belas kasih ikut menghilang. Pada saat itulah manusia kehilangan kemampuan melihat sesamanya sebagai pribadi yang juga memiliki luka, harapan, dan martabat. Yang tersisa hanyalah keinginan untuk menang, membalas, atau membenarkan diri.
Padahal Tuhan tidak membebani manusia dengan sesuatu yang mustahil. Yang Dia kehendaki adalah agar manusia menjadi pembawa damai. Damai bukanlah tanda kelemahan, melainkan buah dari hati yang mampu mengendalikan ego dan mengutamakan kemaslahatan bersama.
Hikmat seseorang bukan diukur dari seberapa banyak perdebatan yang dimenangkannya, melainkan dari seberapa banyak kedamaian yang berhasil diwujudkannya. Orang yang terus mengejar pembenaran diri akan mudah kecewa, sebab tafsir manusia selalu terbatas. Sebaliknya, orang yang mengejar perdamaian akan menemukan ketenangan, karena ia telah berjalan di jalan yang sesuai dengan kehendak Sang Pencipta.
Masyarakat yang damai tidak dibangun oleh orang-orang yang merasa paling benar, tetapi oleh mereka yang bersedia saling mendengar, saling memahami, dan saling mengalah demi kebaikan bersama. Di sanalah keadilan menemukan makna yang paling manusiawi, bukan sebagai kemenangan salah satu pihak, melainkan sebagai lahirnya kehidupan yang lebih tenteram bagi semua.
Mungkin pada akhirnya manusia tidak akan pernah menggenggam kebenaran yang sempurna ataupun keadilan yang mutlak. Namun, setiap orang selalu memiliki kesempatan untuk menghadirkan damai sejahtera. Dan bisa jadi, ketika damai itu tercipta, manusia telah berada lebih dekat kepada kebenaran dan keadilan Tuhan daripada ketika ia sibuk memperjuangkan keduanya demi dirinya sendiri.
Damai sejahtera bukanlah tujuan akhir dari peradaban manusia. Damai sejahtera adalah jalan yang mengantarkan manusia semakin dekat kepada Sang Sumber Kebenaran dan Keadilan. ***
