PINTU YANG TAK MAU TENGGELAM
0 menit baca
L K Ara
Laut mengamuk.
Langit
menumpahkan
segala murka.
Gelombang
mengangkat
sebuah pintu
yang tercerabut
dari rumah
yang entah
milik siapa.
Di atasnya,
seekor induk kambing
tetap berdiri,
sementara
anaknya
bersandar
dalam tenang,
seolah percaya,
bahwa kasih sayang
lebih kuat
daripada badai.
Aku memandangnya
lama.
Lalu bertanya
kepada diriku sendiri:
berapa banyak manusia
yang meninggalkan
sesamanya
ketika ombak datang,
sedang seekor ibu
tak pernah
menurunkan
anaknya
meski dunia
hampir karam?
Barangkali
Tuhan sedang
mengirimkan
pelajaran,
bukan melalui
mimbar,
bukan pula
melalui kitab
yang dibacakan,
melainkan
melalui
seekor kambing,
seekor anak,
dan
sebuah pintu
yang hanyut
di tengah samudra.
Sebab
yang menyelamatkan
kehidupan,
kadang bukan
kapal yang besar,
melainkan
cinta
yang tak bersedia
melepaskan.
Laut mengamuk.
Langit
menumpahkan
segala murka.
Gelombang
mengangkat
sebuah pintu
yang tercerabut
dari rumah
yang entah
milik siapa.
Di atasnya,
seekor induk kambing
tetap berdiri,
sementara
anaknya
bersandar
dalam tenang,
seolah percaya,
bahwa kasih sayang
lebih kuat
daripada badai.
Aku memandangnya
lama.
Lalu bertanya
kepada diriku sendiri:
berapa banyak manusia
yang meninggalkan
sesamanya
ketika ombak datang,
sedang seekor ibu
tak pernah
menurunkan
anaknya
meski dunia
hampir karam?
Barangkali
Tuhan sedang
mengirimkan
pelajaran,
bukan melalui
mimbar,
bukan pula
melalui kitab
yang dibacakan,
melainkan
melalui
seekor kambing,
seekor anak,
dan
sebuah pintu
yang hanyut
di tengah samudra.
Sebab
yang menyelamatkan
kehidupan,
kadang bukan
kapal yang besar,
melainkan
cinta
yang tak bersedia
melepaskan.
