![]() |
| T.Azhari |
Banda Aceh I Gebrak24.com – Gelombang serangan yang menyasar ranah pribadi Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), terkait isu poligami justru memicu reaksi simpati dari masyarakat. Alih-alih meruntuhkan elektabilitas, serangan bertubi-tubi itu dianggap sebagai bentuk kecemburuan sosial dan standar ganda yang dibungkus dengan narasi moral.
T. Azhari, atau yang akrab disapa Pon Peunawa, tokoh asal Peudada, Bireuen, angkat bicara membela Mualem. Menurutnya, keberanian Mualem menjalani kehidupan pribadi secara transparan adalah bukti integritas seorang pemimpin yang jauh dari kata pura-pura.
“Saya angkat jempol untuk sikap gentleman Mualem. Di tengah realitas sosial saat ini, kejujuran seperti itu langka. Beliau sosok yang lengkap: mapan, mantan panglima, Gubernur Aceh, sekaligus pimpinan partai. Ia adalah simbol lelaki Aceh yang apa adanya,” ujar Pon Peunawa, Rabu (21/1/2026).
Pon Peunawa menilai, kritikan pedas yang dialamatkan kepada Mualem sebenarnya berakar dari rasa iri yang terpendam. Ia mensinyalir banyak pihak yang secara ekonomi atau keberanian tidak mampu melakukan hal yang sama, sehingga meluapkan rasa tidak suka melalui penghakiman moral.
“Banyak yang ingin, tapi tidak mampu atau tidak berani karena berbagai faktor. Akhirnya, ketidakmampuan itu berubah menjadi serangan kepada mereka yang berani terbuka,” tambahnya
Lebih lanjut, Pon Peunawa menyentil fenomena kemunafikan yang kerap terjadi di ruang publik. Ia menyoroti oknum-oknum yang tampil religius dan bicara moral di podium, namun di balik layar justru terlibat dalam hubungan gelap atau praktik perselingkuhan yang tidak bertanggung jawab.
“Yang berbahaya itu yang tampak alim di depan, tapi 'liar' di belakang. Mereka aman dari sorotan karena pandai bersembunyi. Padahal, perilaku sembunyi-sembunyi itulah yang sebenarnya merusak martabat daerah,” tegasnya.
Bagi para pendukungnya, sosok Mualem dianggap memberikan teladan tentang pentingnya hidup tanpa topeng. Dengan tidak menyembunyikan status pernikahannya, Mualem dinilai tidak sedang mencari perlindungan di balik citra palsu.
Bagi para pendukungnya, sosok Mualem dianggap memberikan teladan tentang pentingnya hidup tanpa topeng. Dengan tidak menyembunyikan status pernikahannya, Mualem dinilai tidak sedang mencari perlindungan di balik citra palsu.
“Mualem memilih jalan yang sah secara agama dan dilakukan secara terbuka. Tidak ada wajah ganda. Ini jauh lebih terhormat daripada hidup penuh kepura-puraan,” tutup Pon Peunawa. (MTU/ybs/ops/mi).



