BREAKING NEWS


 

Benarkah Pendidikan Kita Makin Liberal? Barata Sembiring Soroti Fenomena 'Pengkastaan

Brata Sembiring Brahmana 

Kabanjahe I Gebrak24.com  – Dalam diskusi virtual bertajuk filosofi "Mulihi ku Juma", Tokoh Masyarakat Karo, Bapak *Barata Sembiring Brahmana,* menyampaikan orasi kerakyatan yang tajam mengenai arah pendidikan dan kesehatan di Tanah Karo. Beliau menegaskan bahwa sistem pendidikan yang terfragmentasi berdasarkan status ekonomi adalah wujud nyata liberalisme yang merusak tatanan sosial dan budaya lokal.

*Pendidikan: Hak Rakyat, Bukan Komoditas*

Barata Brahmana menyoroti fenomena "Sekolah Unggul" berbiaya ratusan juta rupiah sebagai bentuk pengkastaan pendidikan. Menurutnya, pemisahan fasilitas antara si kaya dan si miskin adalah pengkhianatan terhadap mandat Konstitusi.

"Pendidikan dengan pengkastaan adalah wujud manifestasi Liberalisme. Ini sangat berlawanan dengan jati diri dan Budaya Karo, yaitu Endi Enta (Memberi dan Menerima). Dalam budaya kita, ada semangat kebersamaan dan kesetaraan, bukan saling menginjak atau memisahkan diri demi status sosial," tegas Barata.

*Digitalisasi sebagai Sarana Kesetaraan*

Sebagai solusi atas ketimpangan tersebut, Barata mendesak agar seluruh sekolah dasar di bawah naungan Pemda Karo mendapatkan hak yang sama dalam teknologi. Beliau menuntut agar sejak kelas 4 SD, anak-anak wajib mahir dalam era digitalisasi.

"Pemerintah harus hadir bukan sebagai penonton, tapi sebagai fasilitator infrastruktur IT. Fasilitas digital harus menjadi bagian dari Prasarana, Sarana, dan Utilitas (PSU) sekolah. Jika sekolah negeri tidak difasilitasi teknologi, maka negara secara tidak langsung melanggengkan kasta pendidikan," tambahnya.

*Refleksi Sejarah dan Ideologi*

Mengenang kejayaan RS Kabanjahe era 50-an hingga 60-an yang bersih dan melayani tanpa pandang bulu, Barata menilai kemerosotan saat ini adalah hasil desain sistematis untuk menomorsatukan pihak swasta. Beliau mengajak masyarakat untuk kembali ke khittah perjuangan para pendiri bangsa:

  • Ideologi Kerakyatan (Hatta) & Marhaenisme (Soekarno): Menempatkan rakyat sebagai subjek utama pembangunan.
  • Sila ke-5 Pancasila: Menolak ketimpangan sosial di bidang kesehatan dan pendidikan.

*Pesan Penutup: Mulihi ku Juma*

Menutup diskusi, Barata Brahmana memberikan pesan emosional bagi para pemimpin di Tanah Karo. Beliau mengingatkan bahwa melawan Neo-Liberalisme adalah kewajiban ideologis. Perbaikan fisik sekolah, peningkatan kesejahteraan guru, dan penyediaan fasilitas IT adalah cara nyata mengamalkan Pancasila dan menjaga kehormatan Budaya Karo.

"Mari kita kembali ke semangat pengabdian yang tulus. Jangan biarkan pendidikan kita menjadi ajang bisnis yang memisahkan anak-anak bangsa," pungkasnya.

(Martin Sembiring)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image