Indonesia : Jangkar ResiIensi dan KedauIatan Tengah Kompetisi Global
Oleh: Martin Sembiring, S.T., M.T.
Lanskap ekonomi Asia Tenggara saat ini tengah berada dalam persimpangan kritis. Seiring dengan pergeseran geopolitik yang memicu eksodus modal dari Tiongkok, negara-negara tetangga seperti Vietnam, Malaysia, dan Filipina
Mereka berlomba-lomba menawarkan diri sebagai "pangkalan" baru bagi kapitalisme global. Namun, di tengah hiruk-pikuk tersebut, Indonesia menawarkan sebuah antitesis yang lebih fundamental: pertumbuhan ekonomi yang berakar pada kedaulatan, bukan penghambatan pada pasar bebas murni.
*Memutus Rantai "Alienasi" Melalui Hilirisasi*
Dalam kacamata ekonomi-politik, Indonesia saat ini sedang menjalankan praktik "negosiasi ala Marxisme" yang sangat cerdik. Kita memahami bahwa dalam sistem kapitalis konvensional, nilai lebih (surplus value) selalu ditarik ke pusat-pusat modal di negara maju.
Sementara negara berkembang hanya menjadi penyedia tenaga kerja murah atau "proletar global".
*Manusia Indonesia: Melampaui Sekadar Komponen Industri*
Sebagai seorang teknokrat, saya menyadari bahwa dalam dunia industri, teknologi hanyalah komponen yang dapat dibeli, dan kecekatan kerja hanyalah keterampilan yang perlu dilatih. Kedua hal itu bersifat mekanis dan bisa direplikasi di mana saja, baik di Hanoi maupun Manila. Namun, ada satu fundamental yang tidak bisa dibeli dengan modal asing: Moral dan Akhlak.
*Resiliensi yang Teruji Badai Pandemi*
Bukti nyata ketangguhan ini terlihat saat dunia dihantam pandemi COVID-19. Di saat banyak negara maju rontok karena hilangnya kepercayaan sosial, Indonesia diakui sebagai salah satu yang terbaik dalam pemulihan. Kekuatan kita terletak pada Gotong Royong—manifestasi nyata dari akhlak bangsa.
*Bonus Demografi: Energi Bangsa yang Merdeka*
Keunggulan kompetitif kita semakin diperkuat oleh bonus demografi. Namun, narasi kita harus tegas: pemuda Indonesia bukan sekadar "sekrup" dalam mesin industri asing. Dengan modal akhlak yang tertanam sejak dalam keluarga dan diperkuat pendidikan teknik, generasi ini akan memastikan Indonesia tidak terjebak dalam middle-income trap.
*Penutup*
Indonesia bukan sekadar negara yang sedang tumbuh; kita adalah model kedaulatan di abad ke-21. Kita membuktikan bahwa teknologi dan modal bisa didatangkan, namun jiwa pejuang dan akhlak bangsa adalah fondasi yang tak tergantikan. Di tengah riuh ASEAN, Indonesia adalah tempat paling nyaman karena di sinilah kemajuan ekonomi bertemu dengan martabat bangsa yang merdeka dan bertuhan.
