BREAKING NEWS

MANIFESTO RAMADAN: Memulihkan Hikmat Kebijaksanaan dan Jati Diri Bangsa


Oleh: Martin Sembiring 

Medan I Gebrak24.com - Pada acara Webinar-RKP Senin, 16 Feberuari 2026 pukul 19.30-21.30 WIB , dapat di maknai *Ramadan bukan sekadar siklus ritual tahunan*, melainkan sebuah laboratorium moral bangsa yang dirancang untuk menginstal ulang jati diri kita sebagai manusia dan warga negara. Dalam bingkai filsafat Pancasila, ibadah puasa adalah jembatan yang menghubungkan religiusitas privat dengan kebangsaan yang inklusif melalui empat pilar utama:

1. *Pengendalian Diri: Perisai terhadap Ego Sektarian*

Secara religius, puasa adalah perisai yang mencegah perbuatan dosa dan membangun mentalitas positif. Ia melatih kita untuk mengendalikan hawa nafsu agar jiwa tidak diperbudak oleh keinginan badaniah semata. Sebagaimana ditekankan oleh Teguh Yuwono, pengendalian diri ini harus bermanifestasi menjadi kemampuan untuk mengontrol tindakan, pikiran, dan ucapan demi kepentingan bangsa dan negara. Inilah jawaban atas kelangkaan musyawarah; hanya mereka yang mampu mengendalikan ego pribadinya yang dapat duduk bersama dalam hikmat kebijaksanaan.

2. *Empati Sosial: Kompas Keadilan Universal*

Religiusitas puasa mengajak kita merasakan lapar agar tumbuh solidaritas dan tanggung jawab sosial terhadap penderitaan sesama. Rasa lapar ini adalah instrumen universal yang tidak mengenal sekat agama atau suku. Kemampuan untuk merasakan penderitaan rakyat ini harus menjelma menjadi perjuangan nyata untuk menegakkan keadilan dan kesetaraan bagi seluruh warga negara. Ramadan yang "bernafas universal" memastikan tidak ada satu pun warga bangsa yang terabaikan.

3. *Transformasi Personal: Menuju Indonesia yang Berhikmat*

Puasa adalah proses perubahan diri yang positif untuk menjadi warga negara yang lebih baik. Sesuai dengan pandangan Irwan Hasanuddin, jika Ramadan dijalankan dengan benar di Indonesia, maka bangsa ini akan melahirkan ribuan manusia yang Berhikmat—mereka yang telah selesai dengan ego pribadinya dan mampu menempatkan kepentingan bangsa di atas segalanya. Mereka adalah personifikasi dari Sila ke-4 Pancasila yang menjaga kedaulatan moral bangsa di tengah arus pragmatisme.

4. *Konsep Melahirkan "Dewan HIKMAT Kebijaksanaan Pancasila"*

Sebagai solusi atas hilangnya ruh musyawarah di tingkat elit, kita memerlukan sebuah gagasan kolektif untuk melahirkan Dewan HIKMAT Kebijaksanaan Pancasila. Ini bukan sekadar lembaga formal, melainkan sebuah wadah yang diisi oleh pribadi-pribadi yang telah lulus dalam "Madrasah Ramadan":

- Fungsi: Menjadi jangkar moral dan rujukan etik bagi para pengambil kebijakan ketika musyawarah menemui jalan buntu akibat ego kepentingan.

- Komposisi: Terdiri dari manusia-manusia yang berhikmat—pribadi yang telah selesai dengan ambisi badaniahnya dan memiliki rekam jejak pengabdian universal yang nyata.

- Tujuan: Memastikan bahwa setiap keputusan besar bangsa tidak lagi didasarkan pada kekuatan transaksional, melainkan pada Hikmat Kebijaksanaan yang jernih, adil, dan beradab sesuai dengan ruh Pancasila.

*Kesimpulan: Menjelmakan Pancasila dalam Laku Nyata*

Tujuan sejati Ramadan adalah melahirkan manusia dan institusi pemikiran yang Berhikmat dan Bijaksana. Kita tidak sedang membicarakan agama sebagai hukum formal, melainkan sebagai sumber energi moral yang memperkuat ke-Indonesia-an kita yang luhur. Sebagaimana pesan dari Teguh Yuwono dan Irwan Hasanuddin, jika musyawarah mulai hilang pada tingkat elit, maka tugas kita adalah melahirkan kembali "Dewan Hikmat" di dalam hati sanubari setiap pemimpin dan rakyat, sehingga kita kembali menjadi bangsa yang dipandu oleh nilai-nilai luhur, bukan oleh nafsu kekuasaan.

*"Puasanya membersihkan jiwa, transformasinya melahirkan Dewan Hikmat, dan amalan universalnya menghidupkan Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia." ****

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image