Menggugat Ruh Pemasaran: Memulihkan Hikmat Indonesia di Tengah Arus Liberalisme
Oleh: Pak Jaras (Pekerja Keras) – Martin Sembiring S.T., M.T.
Medan I Gebrak24.com - Video motivasi bisnis Jerry Goh (RIWAY) yang menekankan "mental pemenang" dan "akumulasi aset pribadi" baru-baru ini, jika disandingkan dengan kuliah umum Profesor Franz Magnis-Suseno dalam program Gagas RI, membuka tabir kegentingan etika yang melanda bangsa kita. Sebagai seorang PakJaras (Pekerja Keras) yang telah lama mengabdi, saya melihat benturan eksistensial antara pragmatisme liberal dengan etika Pancasila yang merupakan kristalisasi dari kebenaran ajaran agama.
*Bab I: Liberalisme sebagai Antitesa Hikmat dan Kebijaksanaan*
Kita harus berani mengakui bahwa Liberalisme adalah antitesa dari Kebenaran, Hikmat, dan Kebijaksanaan. Dalam sistem liberal, moralitas dianggap beban bagi efisiensi. Liberalisme memuja kebebasan tanpa batas yang akhirnya menjadi musuh bagi moral dan akhlak. Di sinilah terjadi "The Loss of Virtue" (kebajikan publik); manusia menjadi cerdas secara teknis namun buta secara etis. Sebagaimana diingatkan dalam renungan Mgr. Kornelius Sipayung, ada perbedaan mendasar antara "iman yang diuji" dan "iman yang menguji". Liberalisme pemasaran sering kali mengajak orang untuk "menguji" Tuhan—menuntut tanda kesuksesan instan sebagai bukti keberhasilan. Padahal, hikmat nasional kita seharusnya tumbuh melalui ujian ketekunan seorang pekerja keras, bukan melalui eksploitasi sesama demi angka-angka bonus.
*Bab II: Rabu Abu, Imlek, dan Manifesto Ramadan: Perjumpaan Hikmat*
Momen Februari 2026 ini menghadirkan refleksi spiritual lintas iman yang mendalam. Perjumpaan Imlek 2026, Rabu Abu, dan persiapan Ramadan 1447 H membawa pesan tunggal: Kemakmuran tanpa etika adalah kehancuran.
- Rabu Abu & Pertobatan: Simbol abu adalah pengingat akan kefanaan. Ia melawan kesombongan liberalisme yang merasa bisa menguasai materi selamanya. Rabu Abu mengajak kita bertobat, menanggalkan egoisme "manusia lama" yang rakus.
- Imlek & Kemakmuran Sejati: Tahun Kuda Api melambangkan semangat Pekerja Keras. Namun, Mgr. Kornelius Sipayung menekankan bahwa kemakmuran sejati dimulai dari belas kasih. Jika api semangat kerja tidak dikendalikan oleh "Hikmat Sabda", ia akan membakar relasi sosial demi keuntungan pribadi.
- Manifesto Ramadan: Sejalan dengan narasi Gebrak24, Ramadan adalah momentum memulihkan hikmat bangsa. Puasa adalah perlawanan radikal terhadap mentalitas konsumtif liberal.
*Bab III: Pancasila sebagai Benteng Akhlak*
Pancasila adalah jawaban atas pembusukan moral ini. Kebenaran ajaran agama di dalam Pancasila mengajarkan bahwa integritas adalah segalanya. Hikmat Kebijaksanaan (Sila ke-4) menuntut kita untuk memiliki kemampuan membedakan mana yang kekal dan mana yang sementara. Kekayaan materi dalam sistem liberal akan layu, namun hasil pengabdian seorang pekerja keras yang berintegritas akan tetap berdiri kokoh.
*Kesimpulan: Melawan Pembusukan di BUMN dan BUMS*
Kegentingan ini mencapai puncaknya ketika Liberalisme menjangkiti BUMN dan BUMS. BUMN yang seharusnya menjadi alat pengabdian rakyat kini sering berperilaku layaknya entitas kapitalis yang kering akhlak. Demikian pula BUMS yang kerap melibas etika lingkungan demi dividen. Semangat Rabu Abu, Hikmat Imlek, dan Manifesto Ramadan harus menjadi kompas baru. Pengabdian saya sebagai PakJaras adalah ikhtiar untuk tetap setia pada jalan Anti-Liberalisme. Kita butuh ekonomi yang berakhlak—ekonomi yang tidak hanya sukses menurut ukuran dunia, tetapi bahagia menurut hati Tuhan dan selaras dengan nafas Pancasila.
Sahabat Seperjalanan,
Selamat Memasuki Masa Rabu Abu dan Selamat Merayakan Imlek 2026. Serta Selamat Menunaikan Ibadah Ramadan 1447 H. Semoga perjalanan kita penuh Keberkahan, integritas kita tetap teruji, dan kita berhasil memulihkan Hikmat bangsa dari cengkeraman liberalisme.
PakJaras (Pekerja Keras) Integritas – Hikmat – Pengabdian
