BREAKING NEWS


 


 

Sejarah Bukit Spiritual di Mesir

 


Oleh: Martin Sembiring

Kairo  I Gebrak24.com - Di balik riuh rendah Kota Kairo yang modern, tersembunyi sebuah monumen iman yang tak tertandingi di Bukit Mukattam. Sebuah tempat di mana sejarah tidak hanya ditulis di atas kertas papirus, tetapi dipahat langsung pada dinding dinding tebing batu. Gereja St. Simon the Tanner, atau yang dikenal sebagai "Gereja Mukjizat", berdiri sebagai saksi bisu atas sebuah peristiwa yang melampaui logika manusia yaitu berpindahnya sebuah gunung.

*Tantangan Iman di Masa Dinasti Fatimiyah*  

Catatan sejarah Mesir kuno, khususnya dalam kitab _Siyar al-Abā’ al-Baṭārikah_ (Sejarah para Patriark Gereja Alexandria) yang disusun oleh sejarawan Koptik abad ke-10, Severus Ibn al-Muqaffa, mengabadikan peristiwa dramatis ini. Dikisahkan pada tahun 979 Masehi, Mesir berada di bawah kekuasaan Khalifah Al-Mu'izz Lideenillah dari Dinasti Fatimiyah.  

Sang Khalifah, yang dikenal gemar berdiskusi tentang agama, memberikan tantangan mustahil kepada Paus Abraham (Patriark Koptik ke-62). Tantangan tersebut merujuk pada ayat di Injil Matius 17:20 mengenai iman sebesar biji sesawi yang mampu memindahkan gunung. Khalifah menuntut bukti nyata. Jika gunung itu tidak berpindah dalam tiga hari, eksistensi umat Koptik di Mesir berada dalam ancaman besar.

*Sosok Simon si Penyamak Kulit*  

Di tengah keputusasaan, Paus Abraham mengajak umatnya berpuasa dan berdoa. Tradisi mencatat bahwa pada hari ketiga, Bunda Maria memberikan penglihatan untuk mencari seorang penyamak kulit bernama Simon. Simon bukanlah pejabat atau pemuka agama. Ia adalah pekerja kasar yang dikenal memiliki satu mata, sebuah pengorbanan ekstrem yang ia lakukan secara sukarela untuk menghindari dosa penglihatan, demi menjaga kemurnian hatinya.  

Atas petunjuk Simon, ribuan umat berkumpul di kaki gunung. Mereka menyerukan _"Kyrie Eleison"_ (Tuhan Kasihanilah Kami) sebanyak 400 kali sambil bersujud. Dokumen sejarah mencatat bahwa setiap kali umat bersujud dan bangkit, Bukit Mukattam terangkat ke atas. Guncangan gempa yang menyertai peristiwa itu membuat bukit tersebut berpindah sejauh 3 kilometer dari lokasi asalnya.

*Etimologi Al-Muqattam: "Yang Terputus"*  

Secara linguistik, nama "Al-Muqattam" dalam bahasa Arab memiliki arti "yang terpotong" atau "yang terpisah". Narasi lokal meyakini bahwa nama ini muncul sebagai deskripsi fisik atas retakan besar yang memisahkan bukit tersebut dari jajaran pegunungan asalnya setelah mukjizat terjadi. Peristiwa ini begitu menggetarkan hati Khalifah Al-Mu'izz, hingga ia memberikan kebebasan penuh bagi umat Kristen untuk merestorasi tempat tempat ibadah mereka di Mesir.

*Simbol Kebangkitan di "Kota Sampah"*  

Kini, lokasi tersebut tidak lagi terisolasi. Di kaki bukit tersebut menetap komunitas _Zabbaleen_, para pengumpul dan pendaur ulang sampah Kairo. Di tengah lingkungan yang secara fisik tampak berat, mereka membangun kompleks biara gua terbesar di Timur Tengah dengan kapasitas 20.000 jemaat.  

Pahatan relief megah yang menghiasi dinding gua, hasil karya seniman Polandia Mariusz Dybich pada tahun 1990-an, seolah mempertegas narasi sejarah yang ada. Gereja St. Simon bukan sekadar bangunan arsitektur yang unik, melainkan pengingat bahwa di tanah Mesir, sejarah dan iman pernah bertemu dalam sebuah peristiwa yang memindahkan gunung secara harfiah.  

Bagi para peziarah dan pengamat sejarah, Bukit Mukattam adalah bukti bahwa spiritualitas memiliki bobot yang mampu menggerakkan materi, sebuah warisan abadi dari Simon si Penyamak Kulit bagi dunia. ***

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar