BREAKING NEWS

Mengapa Saya Menulis Puisi “Belajar Menjadi Debu”

 


L. K. Ara

Banda Aceh I Gebrak24.com - Puisi “Belajar Menjadi Debu” lahir dari kesadaran bahwa perjalanan spiritual manusia bukanlah perjalanan untuk menjadi semakin besar, melainkan semakin kecil di hadapan Allah.

Di zaman ketika manusia berlomba meninggikan nama, jabatan, kekayaan, dan pujian, saya justru ingin mengingatkan diri sendiri bahwa tujuan ibadah adalah meruntuhkan keakuan. Di hadapan Ka’bah, semua gelar gugur. Yang tersisa hanyalah seorang hamba yang meletakkan keningnya di bumi.

Saya memilih debu sebagai metafora karena debu adalah lambang kerendahan. Ia tidak pernah meminta dilihat, tidak pernah menuntut dihargai, tetapi justru selalu dekat dengan tanah—asal penciptaan manusia. Debu mengajarkan bahwa semakin dekat seseorang kepada Tuhan, semakin hilang keinginannya untuk dipuji.

Puisi ini bukan tentang Ka’bah semata. Ka’bah hanyalah titik yang mempertemukan jutaan manusia dengan hakikat dirinya. Yang sesungguhnya ingin saya tuliskan adalah perjalanan batin: dari kesombongan menuju ketundukan, dari kebisingan ego menuju keheningan jiwa.

Saya percaya, sujud bukan sekadar gerakan tubuh. Sujud adalah peristiwa ketika hati belajar melepaskan dirinya sendiri. Saat itulah manusia mulai mengenal Tuhannya.

Karena itu, “Belajar Menjadi Debu” bukan ajakan untuk merasa rendah, melainkan ajakan untuk menjadi rendah hati. Sebab hanya hati yang rendah yang sanggup menerima cahaya-Nya.

Bagi saya, puisi ini adalah doa yang ditulis dengan kata-kata. Sebuah pengingat bahwa pada akhirnya kita semua akan kembali menjadi tanah. Maka, sebelum benar-benar menjadi debu, alangkah baiknya jika sejak sekarang kita belajar memiliki kerendahan hati seekor debu yang tidak pernah membanggakan dirinya, tetapi selalu berada di tempat yang dikehendaki Tuhannya. ***

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image