Hari Hardikda, 10 Sekolah di Aceh Utara Raih Penghargaan Adiwiyata 2026
Penghargaan bergengsi ini diserahkan langsung oleh Bupati Aceh Utara. Prosesi penyerahan didampingi oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Utara, serta perwakilan dunia usaha.
Bupati Aceh Utara, melalui Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Saiful Fata yang didampingi Tim Pembina Adiwiyata Syamsul Rizal, menyebutkan ada 53 sekolah/madrasah yang mendaftar dan dibina melalui aplikasi Sistem Informasi Adiwiyata (SIDIA) tahun ini.
Setelah melalui proses evaluasi ketat, terpilih 10 sekolah/madrasah yang berhasil memenuhi kriteria dan ditetapkan sebagai Sekolah Adiwiyata Kabupaten Aceh Utara 2026.
Berikut daftar 10 sekolah/madrasah peraih Penghargaan Adiwiyata Kabupaten Aceh Utara 2026, yaitu MIN 25 Aceh Utara (Simpang Kramat), MIN 26 Aceh Utara (Syamtalira Bayu), MIN 10 Aceh Utara (Baktiya Barat), SDN 1 Tanah Pasir, SDN 5 Banda Baro, SDN 3 Samudera, SDN 7 Dewantara, SMPN 1 Kuta Makmur, SMPN 2 Meurah Mulia dan SMPN 1 Syamtalira Bayu.
Saiful Fata menegaskan, keberhasilan ini merupakan buah dari kolaborasi pentahelix yang sinergis antara sekolah, tim pembina, mitra dunia usaha, dan seluruh warga sekolah.
"Pendidikan lingkungan hidup bukan sekadar teori di kelas. Ini tentang menumbuhkan empati, kepedulian, dan keberanian bertindak nyata sejak dini melalui perubahan perilaku," ujar Saiful.
Ia menambahkan, seluruh sekolah yang dibina sebenarnya telah mengimplementasikan 5 aspek utama Program Adiwiyata. Mulai dari menjaga kebersihan sanitasi, pengelolaan sampah, menjaga Keanekaragaman Hayati (KEHATI), menanam pohon, hingga penghematan energi dan air.
Sementara itu, Tim Pembina Adiwiyata sekaligus Pengawas Lingkungan, Syamsul Rizal, meluruskan anggapan keliru mengenai program ini. Ia menegaskan bahwa Adiwiyata bukanlah sebuah ajang perlombaan.
"Adiwiyata adalah penghargaan pemerintah bagi sekolah yang memenuhi kriteria sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2025. Tujuannya menciptakan kualitas lingkungan hidup lewat perubahan perilaku," jelas Syamsul.
Syamsul juga merespons keluhan bahwa program Adiwiyata itu mahal dan menyulitkan. Menurutnya, hal itu hanya terasa berat jika sekolah menerapkan sistem 'kebut semalam'.
"Kalau aksinya dilakukan sukarela, ikhlas, dan sudah menjadi karakter sehari-hari, tidak akan terasa capek atau mahal. Target utamanya bukan cuma mengejar penghargaan, melainkan membangun budaya dan perilaku hidup sehat yang terintegrasi dalam kegiatan harian sekolah," pungkasnya.
Menurut Jamaluddin, prestasi membanggakan ini merupakan buah dari kerja keras seluruh elemen sekolah. Mulai dari kepala sekolah, guru, siswa, hingga komite sekolah yang saling bersinergi
Ia menambahkan, penciptaan lingkungan sekolah yang hijau dan asri sangat krusial. Hal ini demi mewujudkan suasana belajar yang sehat, aman, dan nyaman bagi para generasi penerus bangsa. (tim/red)


