BREAKING NEWS

 


Wasiat Sultan

 


Umar A Pandrah


Sultan Iskandar Muda,
selama engkau tiada,
kami malu tak bisa terus wasiatmu.

Kau tinggalkan Negara Acheh
sebagai kitab,
kami sobek halaman-halamannya
untuk membungkus batu curian.

Kau ajarkan laut dijaga, gunung dipeluk.
Kami hafalkan,
lalu kami jual pelukannya per kubik.

Batu kami kuras,
hingga sungai lupa cara mengalir,
ia hanya merangkak,
menyeret malu di atas kerikil.

Gunung kami gunduli,
hingga ia telanjang di hadapan langit,
tak ada lagi doa tersangkut di puncaknya,
hanya luka menganga bekas kuku besi.

Bukit kami keruk,
seperti mencabut gigi dari rahang ibu sendiri,
dan kami tertawa,
dengan mulut penuh darahnya.

Hutan kami gunduli,
paru-paru Negara Acheh kau beri napas meriam dan zikir,
kini kami beri asap dan sumpah serapah,
biar anak cucu belajar sesak sebelum belajar syahadat.

Meukuta Alam,
Dulu kau buat dunia menunduk pada Acheh,
kini kami buat Acheh menunduk pada dunia,
mengemis harga untuk tanahnya sendiri.

Dulu wasiatmu adalah sumpah,
kini wasiatmu adalah museum,
yang kami kunjungi setahun sekali,
lalu kami khianati setiap hari

Jangan dengar deru truk di malam hari,
itu bukan pasukanmu pulang perang, itu gunung-gunungmu dibawa pergi.

Jangan dengar gemuruh sungai,
itu bukan lagi zikir air wudhu pasukanmu,
itu tangis Negara Acheh, malu menyebut dirinya
Negara karena tuannya telah menjadi
penjual makamnya sendiri.***


Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image