BREAKING NEWS

BUMI ATJEH, BUMI AULIA

 


Umar A Pandrah



Jika kau datang ke Atjeh
Lepaskan alas kakimu,
Karena tanah kau pijak adalah sajadah para Aulia.

Di sini, bukan angin yang berbisik,
Tapi zikir Syiah Kuala yang tak pernah putus sejak 400 tahun lalu,
Di sini, bukan ombak yang berdebur,
Tapi doa Hamzah Fansuri yang masih mengaji di tepi laut Barus.

Atjeh bukan sekadar tanah,
Atjeh adalah naskah tua yang ditulis dengan cahaya,
Setiap ulamanya adalah tinta,
Setiap syahidnya adalah pena.

Lihatlah...

Di Peureulak, Abu pertama kali mengucap Syahadat,
Sebelum Jakarta tahu apa itu Islam,
Di Pasai, adzan pertama berkumandang,
Ketika pulau-pulau lain masih menyembah batu.

Kau tanya mengapa tanah ini tidak pernah bisa dikalahkan?
Karena yang menjaganya bukan tentara,
Tapi para Aulia yang masih berjaga di makam-makam keramat,
Teungku Chik Di Tiro tidak mati,
Ia hanya berganti jubah menjadi angin yang mengitari gunung,
Cut Meutia tidak hilang
Ia menjadi hujan yang membasahi sawah-sawah Keumala.

Bumi Atjeh...
Di mana darah dan air wudhu bercampur menjadi satu,
Di mana rencong dan tasbih digenggam di tangan yang sama,
Di mana kalimat "La Ilaha Illallah" adalah nafas pertama bayi yang lahir,
Dan kalimat terakhir kakek yang hendak wafat.

Wahai anak cucu Atjeh yang lupa,
Kembalilah...
Sujudlah di tanah ini,
Ciumlah tanah ini,
Karena setiap sujudmu di sini,
Dijawab oleh seribu doa Aulia dari dalam kuburnya.

Bumi ini tidak butuh bendera untuk menjadi suci,
Karena ia sudah suci sejak pertama kali nama Allah disebut di atasnya.***
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image