Nahlil Mukta Bangkitkan Kembali Kerajinan Rencong Pasee, Tembus Pasar Malaysia hingga Korea
Aceh Utara I Gebrak24.com – Berawal dari keprihatinan terhadap semakin langkanya pengrajin Rencong tradisional Aceh, Nahlil Mukta, pemuda asal Kecamatan Nisam, Kabupaten Aceh Utara, berupaya menghidupkan kembali warisan budaya tersebut melalui inovasi dan promosi digital.
Melalui karya bertajuk Blogger Rencong Pasee, Nahlil mengembangkan kerajinan Rencong Aceh sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat luas, bahkan hingga ke pasar internasional.
Kepada media ini, Sabtu (31/10/2026), Nahlil menceritakan bahwa langkah awal yang dilakukannya berangkat dari kepedulian terhadap pelestarian proses pembuatan Rencong yang kini semakin jarang ditekuni generasi muda.
Ia kemudian mencoba mempromosikan produk Rencong melalui media sosial. Meski pada awalnya belum mendapat banyak perhatian, ia tetap konsisten mengunggah konten hingga akhirnya salah satu unggahannya masuk halaman rekomendasi atau FYP TikTok.
Sejak saat itu, Rencong Pasee mulai dikenal lebih luas, termasuk oleh masyarakat dari luar Aceh.
"Awalnya tidak ada yang melirik, tetapi saya terus mencoba mempromosikannya melalui media sosial. Alhamdulillah, lama-kelamaan banyak orang dari luar Aceh yang mulai mengenal Rencong kita," ungkapnya.
Tidak hanya mengandalkan media sosial, Nahlil juga aktif membangun kerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk pemerintah daerah melalui Dispora, bidang pariwisata, Disperindagkop, serta pelaku UMKM. Dukungan tersebut dinilai turut membantu pengembangan dan pemasaran kerajinan Rencong.
Berkat usaha tersebut, produk Rencong hasil karyanya kini telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, pesanan pernah dikirim hingga Papua, Malaysia, dan Korea Selatan.
Untuk pasar Malaysia, pengiriman dilakukan secara rutin. Konsumennya berasal dari warga Malaysia maupun masyarakat Aceh yang telah menetap di negara tersebut.
Dalam mengembangkan produknya, Nahlil tidak hanya mempertahankan bentuk dan motif Rencong tradisional Aceh. Ia juga melakukan inovasi dengan memadukan ukiran lama dan desain baru.
Menurutnya, motif Rencong Aceh selama ini cenderung sederhana. Karena itu, perpaduan ukiran tradisional dengan sentuhan desain modern diharapkan dapat menghadirkan tampilan baru yang lebih menarik tanpa menghilangkan identitas budaya Aceh.
Inovasi tersebut juga menjadi salah satu upayanya untuk menjaga minat para pencinta benda pusaka agar tetap tertarik terhadap kerajinan Rencong Aceh.
Meski demikian, perjalanan mengembangkan usaha tersebut bukan tanpa kendala. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah keterbatasan bahan baku, khususnya tanduk kerbau yang semakin sulit diperoleh di wilayah Aceh Utara.
"Untuk bahan baku memang cukup sulit, terutama tanduk kerbau. Sekarang semakin susah mendapatkannya karena masyarakat lebih banyak memotong sapi," jelasnya.
Bagi Nahlil, mengembangkan usaha Rencong bukan semata-mata mengejar keuntungan. Ada dua tujuan utama yang ingin diwujudkannya.
Pertama, membuka peluang ekonomi bagi masyarakat pesisir agar memiliki sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kedua, menjaga agar kerajinan Rencong Aceh tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
Ia mengaku prihatin karena jumlah pengrajin yang benar-benar mampu membuat Rencong tradisional secara orisinal kini semakin sedikit dan dapat dihitung dengan jari.
Karena itu, dalam beberapa tahun terakhir, dirinya lebih memfokuskan perhatian pada pengembangan sumber daya manusia (SDM) serta regenerasi pengrajin.
Upaya tersebut mulai membuahkan hasil. Jika sebelumnya hanya memiliki satu orang pengrajin, kini Nahlil telah mengembangkan kelompok kerja dengan sekitar lima orang pengrajin.
Dari sisi ekonomi, usaha kerajinan Rencong yang dikembangkannya saat ini mampu menghasilkan omzet sekitar Rp8 juta hingga Rp10 juta per bulan. Jumlah tersebut bahkan dapat meningkat ketika permintaan melonjak, terutama menjelang bulan Ramadan dan Iduladha.
Nahlil berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik mempelajari seni pembuatan Rencong sehingga warisan budaya Aceh tersebut tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Baginya, Rencong bukan sekadar benda pusaka atau produk kerajinan, melainkan bagian dari identitas dan sejarah masyarakat Aceh yang harus terus dilestarikan.
Melalui Ploger Rencong Pasee, ia ingin membuktikan bahwa warisan budaya lokal tidak hanya dapat dipertahankan, tetapi juga memiliki peluang ekonomi dan mampu menembus pasar internasional apabila dikembangkan dengan kreativitas, konsistensi, serta dukungan berbagai pihak. (tim/red).
