Menilik Potensi Besar Industri Aceh: Peluang, Tantangan, dan Arah Industrialisasi Islami
0 menit baca
Oleh: Usman Cut Raja
Banda Aceh I GEBRAK24.com – Provinsi Aceh memiliki potensi industri yang luar biasa, tidak hanya terbatas pada minyak, gas, dan sawit. Dengan kekayaan agro, energi terbarukan, dan posisi geografis yang strategis, Aceh berpeluang menuju kejayaan ekonomi jika tantangan yang ada dapat diatasi dengan kebijakan yang tepat.
Provinsi ini memiliki potensi agro yang luar biasa: dari kopi Gayo yang mendunia, nilam Aceh sebagai bahan utama parfum global, hingga potensi rumput laut dan hasil laut lainnya. Di sektor energi, Aceh memiliki potensi panas bumi, air, dan energi surya yang belum tergarap maksimal. Posisi geografis Aceh juga sangat strategis, dengan pelabuhan-pelabuhan yang bisa dijadikan simpul perdagangan internasional.
Aceh Menuju Kejayaan dan Kemakmuran Adalah Industri.
Status kekhususan Aceh. Dalam konteks industri, kekhususan ini seharusnya diterjemahkan dalam bentuk regulasi yang memberikan insentif investasi, perlindungan sumber daya, dan peran lebih besar bagi pemerintah daerah dalam mengelola hasil bumi. Sayangnya, keistimewaan ini belum dimanfaatkan secara benar.
Walau peluang terbuka, tantangan yang dihadapi juga tidak ringan. Misalnya infrastruktur industri Aceh belum memadai. KEK Arun yang sempat digadang-gadang sebagai motor industri kawasan, justru stagnan karena tumpang tindih kepentingan dan lemahnya tata kelola.
Termasuk sumber daya manusia (SDM) teknis yang siap pakai masih minim. Banyak industri enggan masuk karena harus mengimpor tenaga kerja dari luar, padahal pengangguran lokal masih tinggi. Lalu iklim investasi Aceh masih dianggap belum ramah. Proses perizinan yang lambat, ketidakpastian hukum, serta kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan masih membayangi persepsi calon investor, baik domestik maupun luar negeri.
Juga minimnya riset dan hilirisasi inovasi lokal. Dunia akademik, industri, dan pemerintah daerah belum terhubung dalam satu ekosistem inovasi yang mendorong penciptaan produk berbasis riset, terutama dalam sektor pertanian, perikanan, dan herbal.
Industrialisasi yang Islami dan Berkeadilan
Untuk keluar dari jebakan industrialisasi konvensional yang hanya berorientasi pada eksploitasi, Aceh perlu menawarkan model industrialisasi alternatif: Islami, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Juga pembangunan industri harus menghormati nilai-nilai syariat, memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal, dan ramah terhadap lingkungan. Sebagai contoh, industri farmasi yang direncanakan di Pulo Breuh bisa menjadi pionir dalam produksi obat halal berbasis tanaman lokal. Industri pangan pun bisa diarahkan pada sertifikasi halal internasional, menjadikan Aceh sebagai pusat produksi produk halal dunia.
Peluang dan Tantangan Ekonomi Aceh
Sedikit catatan kritis perlu disinggung berkaitan dengan rencana pembangunan industri rokok di Aceh. Ditinjau dari sudut nilai-nilai syariat kebijakan ini cukup bernuansa paradoksal. Islam menanamkan faham yang menafikan aktifitas yang memudharatkan. Merokok adalah salahsatu perbuatan yang melalaikan dan memudharatkan sehingga sebagian besar ulama menolaknya
Jika ada kebijakan yang mendorong tumbuhnya aktifitas mudharat tentu harus juga ditolak. Karena justru bertentangan dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi pada butir visi misi yang telah dideklarasikan sebelumnya.
Selain itu, kehadiran industri harus benar-benar memperkuat UMKM dan ekonomi rakyat. Jangan sampai investasi besar justru menyingkirkan pengusaha lokal. Mualem dan timnya harus memastikan adanya kemitraan antara investor besar dengan koperasi lokal, pesantren, dan pelaku ekonomi desa.
Selain itu, zona industri baru perlu dirancang di wilayah barat dan tengah Aceh, seperti Meulaboh, Takengon, dan Bener Meriah. Ini akan memicu pertumbuhan industri agro dan hilirisasi kopi serta pertanian organik. ***
