Diplomasi Marhaenis Modern: Uji Kepatutan di Washington
Oleh: Martin Sembiring
Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Washington D.C. pada pertengahan Februari 2026 ini bukan sekadar upaya berburu investasi di pusat gravitasi kapital dunia. Di balik deretan pertemuan dengan para eksekutif papan atas—dari sektor energi hingga pertahanan—tersirat sebuah pergeseran paradigma ekonomi-politik yang fundamental. Lawatan ini adalah manifestasi dari apa yang dapat kita sebut sebagai "Kepatutan Fungsional-Emansipatif", sebuah manifesto ekonomi Marhaenis modern yang sedang diuji di panggung global.
*Sintesis Machtsvorming dan Pragmatisme*
Marhaenisme yang diprakarsai Bung Karno adalah antitesis terhadap exploitation de l’homme par l’homme. Namun, dalam konteks abad ke-21, Marhaenisme tidak lagi dipahami sebagai isolasi dari kekuatan pasar global. Ia bertransformasi menjadi machtsvorming (pembentukan kekuatan) melalui keterlibatan strategis. Kunjungan ke Washington menjadi patut secara fungsional karena ia menjawab kebutuhan mendesak Asta Cita: percepatan hilirisasi dan transisi energi.
Investasi dari raksasa seperti Chevron atau Freeport harus menjadi instrumen emansipasi—membebaskan ekonomi nasional dari jebakan ekspor komoditas mentah menjadi bangsa industri yang mandiri.
*Kontra-Skema Global dan Perisai Marhaen*
Presiden Prabowo menegaskan posisi Indonesia yang menolak standar ganda perdagangan—khususnya hambatan non-tarif bagi produk rakyat seperti kelapa sawit dan kopi. Inilah inti dari Ekonomi Marhaenis Modern: menjadikan diplomasi luar negeri sebagai perisai bagi rakyat kecil.
Kesepakatan dagang yang diteken pada 19 Februari 2026 mencerminkan keberanian untuk menawar ulang aturan main global. Ekonomi harus memiliki moralitas. Jika komitmen investasi yang didapat di Washington tidak mampu menggerakkan ekonomi bawah (Asta Cita 6), maka secara ideologis, kunjungan tersebut kehilangan ruh emansipasinya.
*Efektivitas: Antara Kapital dan Kedaulatan*
Prediksi efektivitas dari hasil kunjungan ini terletak pada sejauh mana "Prabowonomics" mampu menyeimbangkan antara masuknya kapital asing dengan penguatan kedaulatan domestik.
- Hilirisasi sebagai Harga Mati: Investasi AS harus patuh pada agenda nasional untuk membangun ekosistem nilai tambah di dalam negeri.
- Transfer Pengetahuan: Pembangunan manusia adalah inti dari segalanya. Efektivitas diukur dari seberapa banyak teknologi yang berhasil diserap oleh putra-putri bangsa melalui kerja sama ini.
*Penutup*
Presiden Prabowo sedang memainkan orkestra besar di Washington. Ia tidak sedang mengulang pola lama yang tunduk pada konsensus Washington, melainkan membawa alternatif "Jalan Tengah". Sebuah strategi di mana kapitalisme dunia dimanfaatkan sebagai mesin penggerak industri nasional, sementara rakyat jelata—sang Marhaen—tetap menjadi subjek utama yang menikmati tetesan kemakmuran tersebut.
- Pada akhirnya, efektivitas lawatan ini tidak akan dibaca di bursa saham Wall Street, melainkan di dapur-dapur rakyat Indonesia yang harus semakin berdaulat secara pangan dan energi. Inilah Manifesto Ekonomi Marhaenis Modern: Berdikari di tengah dunia yang saling terkait.
Lampiran: Referensi Strategis
- Literatur Ideologi & Teori: Soekarno (1964). Marhaen dan Proletar. Jakarta: CV Haji Masagung.
- Mubyarto (2000). Membangun Sistem Ekonomi Pancasila. Yogyakarta: BPFE.
- Swasono, Sri-Edi (2010). Indonesia Bukan Bangsa Kuli. Jakarta: Yayasan Hatta.
2. Dokumen Kebijakan:
- TKN (2023). Visi, Misi, dan Program Asta Cita Prabowo-Gibran 2024.
- Sekretariat Kabinet RI (2026). Laporan Kunjungan Kenegaraan Washington D.C., Februari 2026.
- Analisis Media:
a.Warta Ekonomi (Januari 2026). "Pidato Prabowo di Davos: Kontra-Skema Global".
b.Tempo.co (Februari 2026). "Diplomasi Investasi Strategis RI-AS".
