Hidup Sastrawan di Zaman Safiatudin dan Illiza
L K Ara
Di antara dua zaman yang terpisah berabad-abad, terdapat satu benang halus yang tak pernah putus: kata. Kata itulah yang menjaga ingatan, menampung luka, dan menyulam harapan. Jika kita menoleh ke masa Sultanah Safiatuddin—penguasa perempuan yang memerintah Kesultanan Aceh Darussalam pada abad ke-17—dan membandingkannya dengan masa Illiza Sa'aduddin Djamal di Banda Aceh hari ini, kita akan menemukan bahwa hidup sastrawan selalu berada di antara kekuasaan dan nurani.
### 1. Sastrawan di Zaman Safiatudin: Penjaga Hikayat dan Cahaya Istana
Pada masa Sultanah Safiatuddin, sastra bukan sekadar ekspresi pribadi. Ia adalah bagian dari denyut kerajaan. Para sastrawan hidup dekat dengan istana, menulis hikayat, syair, dan kitab-kitab keagamaan. Kata-kata mereka menjadi jembatan antara dunia dan akhirat, antara raja dan rakyat.
Di masa itu, seorang sastrawan bukan hanya penyair, tetapi juga penjaga nilai. Ia menulis dengan kesadaran bahwa tulisannya akan dibacakan di balai, di surau, bahkan mungkin di hadapan sultanah. Maka bahasa mereka cenderung agung, sarat simbol, dan berlapis makna.
Namun kedekatan dengan kekuasaan juga membawa batas. Tidak semua hal bisa ditulis dengan bebas. Kritik harus diselipkan dalam kiasan. Kebenaran dibungkus dalam cerita. Sastrawan belajar berbicara dengan cara yang halus—seperti angin yang menyentuh, bukan badai yang merobohkan.
Di sinilah lahir tradisi sastra yang penuh hikmah. Kata tidak berteriak, tetapi meresap.
### 2. Sastrawan di Zaman Illiza: Suara di Tengah Kebisingan
Berpindah ke masa Illiza Sa’aduddin Djamal, lanskap telah berubah. Kota tidak lagi sunyi seperti halaman istana. Banda Aceh kini dipenuhi suara kendaraan, media sosial, dan arus informasi yang deras.
Sastrawan tidak lagi bergantung pada istana. Mereka bebas menulis, menerbitkan, bahkan menyuarakan kritik secara terbuka. Namun kebebasan ini datang dengan tantangan baru: kebisingan.
Di zaman ini, suara sastrawan sering tenggelam di antara berita sensasional dan hiburan cepat. Kata-kata yang dulu ditunggu, kini harus bersaing dengan detik yang berlari. Maka sastrawan menghadapi pertanyaan yang berbeda: bukan lagi “bolehkah aku menulis ini?”, tetapi “akankah ada yang mendengarkan?”
Namun di balik itu, ada kekuatan baru. Sastrawan kini bisa menjadi saksi zaman dengan cara yang lebih langsung. Mereka dapat menulis tentang kemiskinan, lingkungan, kehilangan, dan iman tanpa harus menyembunyikannya dalam alegori yang terlalu dalam.
Jika dulu kata berbisik, kini ia bisa bersuara lantang.
### 3. Kesamaan yang Tak Pernah Hilang
Meski berbeda zaman, ada sesuatu yang tetap sama: kesunyian batin seorang sastrawan.
Baik di istana Safiatuddin maupun di kota Illiza, sastrawan tetaplah seorang pengembara dalam dirinya sendiri. Ia mencari makna di balik peristiwa, menggali cahaya di dalam gelap, dan merangkai kata sebagai bentuk ibadah.
Sastrawan selalu hidup di antara dua dunia: dunia nyata yang keras, dan dunia batin yang lembut. Ia sering tidak sepenuhnya dimengerti, tetapi justru di situlah letak perannya—menjadi jembatan.
### 4. Dari Hikayat ke Status: Perubahan Medium, Bukan Jiwa
Jika pada masa Safiatuddin karya ditulis dalam bentuk hikayat dan manuskrip, kini ia bisa hadir dalam bentuk buku, video, bahkan unggahan singkat. Medium berubah, tetapi jiwa sastra tetap sama.
Sastrawan tetap bertugas mengingatkan manusia tentang hakikat hidup. Tentang waktu yang singkat. Tentang Tuhan yang dekat.
Barangkali perbedaannya hanya pada cara:
dulu dengan tinta di atas kertas kuning,
kini dengan cahaya di atas layar.
### Penutup: Sastrawan sebagai Penjaga Waktu
Hidup sastrawan, di zaman apa pun, adalah hidup yang tidak sepenuhnya “zaman”. Ia selalu sedikit tertinggal, sekaligus sedikit mendahului.
Di masa Sultanah Safiatuddin, sastrawan menjaga hikayat agar sejarah tidak hilang.
Di masa Illiza Sa'aduddin Djamal, sastrawan menjaga nurani agar manusia tidak lupa arah.
Dan di antara keduanya, ada satu hal yang tetap:
bahwa kata, jika ditulis dengan kejujuran, akan selalu menemukan jalannya—
baik di istana, maupun di tengah kota. <Pesan ini diedit>. ***


