Menerima Buku Sayangi Aku
Takengon I Gebrak24.com - Ada kebahagiaan yang tidak bisa diukur hanya dengan kata “bangga”.
Ia datang pelan, seperti cahaya pagi yang menyelinap di sela jendela—hangat, jujur, dan menetap. Itulah yang saya rasakan saat menerima buku Sayangi Aku, sebuah antologi puisi yang kini bukan sekadar kumpulan halaman, melainkan ruang hidup bagi suara-suara yang peduli.
Tentu, ada rasa gembira karena puisi saya ikut dimuat di dalamnya. Ada pula rasa haru saat menerima piagam penghargaan yang menyertainya—sebuah pengakuan kecil atas perjalanan panjang kata-kata yang saya rawat. Namun, jika berhenti di situ, kebahagiaan ini terasa terlalu dangkal. Sebab, buku ini membawa sesuatu yang lebih dalam dari sekadar pencapaian pribadi.
Di dalam Sayangi Aku, saya menemukan denyut yang lebih luas: kepedulian. Ada puisi-puisi yang tidak hanya berbicara tentang manusia dan perasaannya, tetapi juga tentang makhluk lain yang hidup berdampingan dengan kita—tentang gajah yang kini terancam kehilangan rumahnya, bahkan masa depannya.
Membaca puisi tentang gajah di buku ini seperti mendengar suara yang lama terabaikan. Ia bukan sekadar hewan besar yang megah, tetapi simbol dari alam yang sedang meminta perlindungan. Di balik setiap bait, tersimpan pertanyaan yang sederhana namun menggugah: apakah kita masih punya hati untuk menjaga yang lemah?
Di situlah letak kebahagiaan yang sesungguhnya. Buku ini tidak hanya menjadi wadah bagi karya saya, tetapi juga menjadi jembatan antara kata dan kepedulian. Ia mengingatkan bahwa puisi tidak harus selalu indah dalam arti sempit; puisi juga bisa menjadi suara perlawanan, suara perlindungan, bahkan suara doa bagi makhluk lain.
Menerima buku ini, bagi saya, adalah menerima tanggung jawab baru. Bahwa kata-kata yang ditulis tidak boleh berhenti sebagai hiasan di atas kertas. Ia harus hidup—menyentuh, menggerakkan, dan mungkin, mengubah cara kita memandang dunia.
Karena pada akhirnya, Sayangi Aku bukan hanya judul buku. Ia adalah pesan. Pesan yang sederhana, tetapi sering kita abaikan: bahwa mencintai tidak cukup diucapkan—ia harus diwujudkan, bahkan kepada mereka yang tak bisa berbicara.
(Edtor -tiar )


