Otokritik Pelindo: Dari *Pintu Gerbang Menjadi Orkestrator Maritim Dunia*
Oleh: Khairul Mahalli
Medan I Gebrak24.com - Sudah cukup lama kita terbuai dengan narasi Indonesia sebagai "Poros Maritim Dunia". Namun, dalam realitas operasional di dermaga-dermaga kita, narasi itu sering kali membentur tembok tebal bernama inefisiensi. Biaya logistik nasional yang masih bertengger di kisaran 14 hingga 23 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) adalah alarm yang terus berbunyi, mengingatkan bahwa ada yang belum tuntas dalam tata kelola pelabuhan kita.
Perubahan tagline Pelindo menjadi "Indonesia Maritime Gateway" sejatinya adalah pernyataan arah. Namun, di tengah dinamika global yang menuntut kecepatan dan kepastian, menjadi sekadar "pintu gerbang" (gateway) tidak lagi memadai. Pintu gerbang bersifat pasif—ia hanya menunggu kapal sandar. Dunia hari ini menuntut sosok Orkestrator: sebuah dirigen yang mampu menyelaraskan ekosistem maritim dari hulu ke hilir.
Momentum Emas dan Transformasi Nilai
Momentum perubahan itu kini terbuka lebar. Masuknya jajaran Komisaris dan Direksi baru di tubuh Pelindo harus dimaknai sebagai reset strategis, sebuah "titik nol" untuk memutus rantai birokrasi yang fragmentatif. Dalam siklus kekuasaan dan ekonomi, momentum seperti ini jarang datang dua kali. Jika kepemimpinan baru ini berani mengambil langkah out of the box, Pelindo bisa melompat dari sekadar operator fisik menjadi integrator nilai (value creator).
Investor, baik domestik melalui Danantara maupun mitra global, tidak hanya mencari aset beton di pinggir laut. Mereka mencari kepastian. Investor yang jeli akan melihat potensi luar biasa dari skala ekonomi Pelindo pasca-merger yang mengelola lebih dari 100 pelabuhan. Konsolidasi ini bukan sekadar penggabungan aset, melainkan peluang eliminasi tumpang tindih operasional hingga 20-30 persen.
Data dan Transparansi: Magnet Investasi
Untuk memikat modal global, Pelindo harus menawarkan lebih dari sekadar luas dermaga. Target penurunan biaya logistik menuju standar global adalah magnet utama. Setiap satu persen efisiensi yang diciptakan Pelindo setara dengan penghematan ratusan triliun rupiah yang menjadi nilai tambah bagi pemegang saham.
Kita perlu menengok kembali keberanian Ali Sadikin dalam mentransformasi Jakarta. Ia melibatkan jurnalis, akademisi, dan membuka ruang kritik sebagai panglima kebijakan. Pelindo memerlukan keberanian serupa: Transparansi Radikal. Dengan menghapus "biaya gelap" dan ego sektoral antar-anak perusahaan melalui sistem Single Window dan digitalisasi penuh, Pelindo bertransformasi menjadi customer-centric service platform.
Simpulan: Keberanian Mengambil Risiko
Kita mendukung penuh jika Presiden (RI 1) dan jajaran pimpinan Pelindo berani mengambil risiko untuk melakukan terobosan besar. Keberanian ini adalah jaminan bagi investor bahwa menanam modal di Pelindo bukan sekadar transaksi bisnis, melainkan partisipasi dalam menjaga kedaulatan ekonomi bangsa.
Pelindo hari ini adalah "Unicorn Infrastruktur" yang didukung kekuatan negara namun bekerja dengan kelincahan sektor swasta. Dunia sudah berlari, bahkan melompat. Jika Pelindo hanya berjalan di tempat dengan pola pikir lama, kita akan selamanya menjadi penonton di teras rumah sendiri. Saatnya orkestrasi maritim ini dimulai, dengan transparansi sebagai landasannya dan efisiensi sebagai tujuannya.
Tentang Penulis:
_Khairul Mahalli adalah Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) dan praktisi logistik nasional. Aktif mendorong transformasi ekosistem maritim Indonesia melalui penguatan transparansi operasional dan integrasi supply chain global_.


