Di Depan Makam Sultanah Nahrasiyah
0 menit baca
L K Ara
Di halaman sunyi itu
rumput tumbuh perlahan,
seperti tasbih hijau
yang tak letih memuji Tuhan.
Angin melintas pelan,
membawa bau tanah tua,
seolah dari liang waktu
naik doa-doa yang lama tersimpan.
Aku berdiri di depan makam
Sultanah Nahrasiyah,
seorang perempuan
yang dahulu memegang negeri
dengan tangan amanah.
Tak ada genderang perang di sini,
tak ada sorak istana,
tak ada payung kebesaran
atau pelayan berbaris rapi.
Yang ada hanya diam.
Dan diam kadang
lebih fasih dari pidato panjang.
Nisan itu tegak,
dengan ukiran sabar,
dengan kaligrafi tua
yang seperti dzikir batu
di sepertiga malam.
Setiap guratnya berkata:
Waktu boleh lewat,
nama boleh pudar,
tetapi amal saleh
akan dicatat langit.
Aku membayangkan masa lampau.
Pelabuhan Pasai ramai,
kapal datang membawa rempah,
kain, kuda, emas,
juga nafsu manusia.
Di tengah hiruk itu
ia duduk di singgasana,
bukan untuk meninggi diri,
tetapi menimbang
mana hak, mana batil.
Barangkali banyak lelaki heran
melihat perempuan memimpin.
Barangkali banyak hati iri
melihat adil berjalan.
Namun ia tak menjawab
dengan murka.
Ia menjawab
dengan kerja.
Pasar menjadi jujur.
Jalan menjadi aman.
Anak-anak tidur tenang.
Janda-janda tak takut lapar.
Dan negeri merasa
punya ibu.
Kini semua telah jauh.
Istana telah runtuh.
Kayu telah jadi debu.
Pujian telah hilang
bersama lidah yang mengucapnya.
Tetapi makam ini masih ada.
Seperti ayat sunyi
yang menolak dihapus zaman.
Aku menunduk.
Betapa banyak manusia hari ini
sibuk mengejar kursi,
namun lupa
kursi hanya kayu menunggu rayap.
Betapa banyak orang
mencari kuasa,
namun lupa
amanah itu beratnya
lebih dari gunung.
Di depan makammu, Sultanah,
aku merasa kecil.
Sebab engkau telah selesai
dengan dunia,
sementara kami masih gaduh
memperebutkan bayang-bayangnya.
Angin menyentuh daun-daun.
Langit Aceh tampak teduh.
Dan aku seperti mendengar
suara halus dari batu itu:
Jadilah adil,
meski tanpa mahkota.
Jadilah berguna,
meski tanpa nama.
Jadilah bersih,
meski hidup di pasar dunia.
Sebab manusia pulang
bukan membawa jabatan,
melainkan jejak
yang ditimbang Tuhan.
Aku menatap nisanmu lagi.
Di sana tak ada emas,
tak ada permata,
tak ada singgasana.
Hanya batu.
Namun batu itu
lebih mulia
daripada banyak istana
yang dibangun dari kerakusan.
Wahai Sultanah Nahrasiyah,
engkau telah lama diam,
tetapi diammu
masih menjadi khutbah.
Dan di depan makam ini
aku tahu satu hal:
keadilan yang lahir karena iman
tak akan mati,
meski jasad telah lama
kembali ke bumi.
Catatan Pinggir:
============
Sultanah Nahrasiyah dan Masa Pemerintahannya
Sultanah Nahrasiyah dikenal dalam sejarah sebagai salah satu penguasa perempuan penting di kawasan Nusantara. Ia memerintah Kesultanan Samudera Pasai pada abad ke-15, dan namanya terutama dikenang melalui makam indah yang masih berdiri di wilayah Aceh Utara. Dari nisan itulah para peneliti membaca jejak kebesaran seorang ratu yang pernah menakhodai negeri dagang Islam terkemuka di Asia Tenggara.
Masa pemerintahannya sering diperkirakan berlangsung sekitar awal hingga pertengahan abad ke-15. Dalam sejumlah kajian sejarah, wafatnya Sultanah Nahrasiyah dicatat sekitar tahun 1428 M. Walau data rinci pemerintahan masa itu tidak selengkap kerajaan modern, peninggalan makam dan catatan asing menunjukkan bahwa Pasai ketika itu tetap memiliki wibawa politik dan ekonomi.
Pada zaman beliau, Samudera Pasai adalah pusat perdagangan penting. Kapal-kapal dari Arab, India, Persia, Tiongkok, dan kawasan Melayu datang membawa barang dagangan, ilmu, bahasa, dan budaya. Pasai dikenal sebagai bandar niaga sekaligus pusat penyebaran Islam. Karena itu, memimpin Pasai bukan tugas kecil. Penguasanya harus mampu menjaga keamanan laut, kestabilan pasar, hubungan diplomatik, dan ketertiban rakyat.
Kehadiran Sultanah Nahrasiyah juga membuktikan bahwa dalam sejarah Aceh dan Nusantara, perempuan pernah memegang tampuk kuasa pada tingkat tertinggi. Ini penting dicatat, sebab sering ada anggapan bahwa sejarah hanya milik laki-laki. Pada kenyataannya, Aceh memiliki jejak panjang perempuan-perempuan pemimpin.
Makam beliau terkenal karena keindahan seni pahat batu nisannya. Kaligrafi Arab dan ragam hias pada makam itu menunjukkan tingginya peradaban Pasai saat itu. Batu nisan bukan sekadar penanda kubur, tetapi juga dokumen budaya: ia menyimpan informasi tentang agama, seni, bahasa, status politik, dan rasa hormat masyarakat kepada pemimpinnya.
Jika puisi menyebut beliau sebagai lambang keadilan, itu lahir dari makna simbolik sejarah: seorang penguasa yang dikenang ratusan tahun setelah wafatnya biasanya bukan hanya karena kuasa, tetapi karena jasa dan pengaruh. Istana dapat hilang, tetapi nama yang baik sering bertahan lebih lama daripada tembok kerajaan.
Bagi Aceh hari ini, Sultanah Nahrasiyah adalah pengingat bahwa negeri ini pernah berdiri tegak di jalur dunia, terbuka pada perdagangan, ilmu, dan iman. Ia juga mengingatkan bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari kerasnya suara, melainkan dari manfaat yang tinggal sesudah seseorang tiada.
Karena itu, berdiri di depan makam beliau sesungguhnya bukan hanya menatap masa lalu, tetapi menatap pertanyaan masa kini:
Apakah kita sedang membangun warisan, atau hanya keramaian sesaat? (red)


