Burung-Burung Wahyu dari Aceh
0 menit baca
L K Ara
Mereka datang dari empat belas negeri,
membawa koper berisi bahasa,
membawa paspor yang dicap oleh waktu,
namun sesungguhnya mereka adalah
burung-burung wahyu
yang diutus angin sejarah
untuk hinggap di ranting Aceh.
Di Serambi Mekah ini,
langit membuka lembaran birunya
seperti kitab yang belum selesai dibaca.
Satu demi satu penyair berdatangan,
menebarkan benih kata
ke ladang hati manusia.
Tak terdengar derap pasukan,
tak terlihat asap peperangan,
yang ada hanya suara puisi
mengalun seperti azan subuh
yang membangunkan nurani dunia.
Aceh pun menjelma pohon tua,
akarnya menghunjam ke bumi,
cabangnya menyentuh langit.
Pada dahannya bertengger
burung-burung dari berbagai bangsa,
berkicau dalam bahasa berbeda,
namun memuji matahari yang sama.
Setiap bait yang dibacakan
adalah sehelai bulu cahaya
yang gugur dari sayap malaikat.
Setiap pertemuan
adalah zikir panjang peradaban
yang mengingatkan manusia
bahwa kita berasal dari satu rahasia.
Maka malam-malam di Aceh
menjadi lebih terang dari biasanya.
Bukan oleh lampu-lampu panggung,
melainkan oleh nyala ruh
yang berkumpul di dalam dada para penyair.
Dan ketika acara usai,
burung-burung wahyu itu akan terbang kembali
ke negeri-negeri yang jauh,
membawa oleh-oleh yang tak tampak:
segenggam persaudaraan,
setangkai doa,
dan keyakinan bahwa puisi
masih mampu menyelamatkan manusia
dari kesepian zaman.
Sebab dari Aceh,
dunia belajar kembali,
bahwa kata yang lahir dari cinta
akan selalu menemukan jalan pulang
menuju Tuhan.
Banda Aceh, Juni 2026
