Dinilai Tendensius terhadap HMI di Muktamar NU ke-35, Pernyataan Cak Imin Tuai Sorotan Tajam Alumni HMI
Medan I Gebrak24.com - Pernyataan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin, dalam sebuah video yang belakangan viral di media sosial menuai sorotan. Pernyataan yang menyebut kondisi Nahdlatul Ulama (NU) mengalami keterpurukan dalam lima tahun terakhir karena dipimpin oleh alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dinilai sejumlah pihak dapat menimbulkan polemik baru di tengah warga NU maupun alumni HMI.
Sorotan tajam datang dari Muhammad Mas'ud Silalahi (foto), putra kelahiran Kota Medan, Sumatera Utara, yang juga merupakan alumni HMI. Ia menilai pernyataan tersebut terlalu tendensius karena membawa identitas organisasi tertentu dalam mengkritisi persoalan internal NU.
Menurut Mas'ud, kritik terhadap kepemimpinan NU merupakan hal yang wajar dalam sebuah organisasi besar. Namun, kritik semestinya disampaikan secara arif, objektif, konstruktif, serta disertai solusi, bukan dengan mengaitkannya secara general dengan latar belakang organisasi seseorang.
“Kalau memang Cak Imin tidak senang dengan kepemimpinan NU dalam beberapa tahun terakhir, mestinya kritik itu diarahkan kepada kebijakan atau pola kepemimpinannya, sekaligus memberikan solusi yang arif dan bijaksana. Jangan kemudian membawa-bawa nama organisasi,” ujar Muhammad Mas'ud Silalahi saat dimintai keterangan oleh awak media, Minggu (30/8).
Mas'ud menegaskan bahwa HMI merupakan organisasi mahasiswa yang memiliki sejarah panjang dan kader serta alumninya tersebar di berbagai sektor kehidupan. Menurutnya, alumni HMI tidak hanya berada di lingkungan NU, tetapi juga berkiprah di berbagai organisasi kemasyarakatan Islam lainnya, termasuk Muhammadiyah, Al Washliyah, Al-Ittihadiyah, Nahdlatul Wathan dan berbagai organisasi lainnya.
“Sebagai alumni HMI, saya jelas merasa tersinggung dengan pernyataan tersebut. HMI memiliki banyak kader dan alumni yang telah berkontribusi di berbagai bidang dan berada di banyak organisasi. Karena itu, jangan sampai sebuah pernyataan justru menimbulkan kesan seolah-olah ada kelompok tertentu yang menjadi penyebab persoalan sebuah organisasi,” tegasnya.
Minta Klarifikasi dan Permohonan Maaf
Mas'ud meminta Cak Imin segera memberikan klarifikasi agar pernyataan tersebut tidak berkembang menjadi polemik yang lebih luas. Ia bahkan berharap Cak Imin dapat menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada para alumni HMI yang merasa tersinggung.
“Cak Imin harus memberikan klarifikasi dan, kalau memang pernyataan itu menyinggung perasaan alumni HMI, sebaiknya meminta maaf secara terbuka kepada seluruh alumni HMI di Indonesia,” katanya.
Ia mengingatkan, alumni HMI dan kader HMI tersebar dari Sabang sampai Merauke, bahkan banyak yang berkiprah di berbagai negara. Karena itu, menurutnya, setiap pernyataan yang membawa-bawa identitas organisasi harus disampaikan secara hati-hati agar tidak memunculkan gesekan di tengah masyarakat.
Mas'ud juga mengingatkan agar pengalaman masa lalu yang pernah menimbulkan ketegangan antara pernyataan seorang pejabat dengan kader HMI dan KAHMI tidak kembali terjadi.
“Jangan sampai pernyataan seperti ini menyebabkan konflik berkepanjangan di tengah masyarakat Indonesia. Kita semua harus belajar dari berbagai peristiwa sebelumnya ketika sebuah pernyataan justru memancing kemarahan kader HMI dan KAHMI di berbagai daerah,” ujarnya.
NU Dinilai Harus Tetap Menjadi Rumah Persaudaraan
Lebih jauh, Mas'ud menekankan bahwa NU merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang memiliki sejarah panjang dalam menjaga persatuan, kehidupan keagamaan, kebangsaan, serta kerukunan masyarakat.
Karena itu, ia berharap dinamika yang terjadi di tubuh NU tidak menyeret organisasi kemasyarakatan lain ke dalam konflik identitas.
“NU itu milik umat Islam dan bagian penting dari perjalanan bangsa Indonesia, bukan hanya milik segelintir orang. Cita-cita luhur pendirian NU harus dihormati dengan menjaga persaudaraan umat Islam dan seluruh umat beragama di Indonesia,” ungkapnya.
Ia juga mengajak seluruh pihak, termasuk para tokoh dan elite organisasi, untuk lebih mengedepankan dialog serta tabayun ketika terjadi perbedaan pandangan.
Menurutnya, kritik yang disampaikan dengan cara yang santun justru dapat menjadi energi positif bagi perbaikan organisasi. Sebaliknya, pernyataan yang menggeneralisasi kelompok tertentu dikhawatirkan justru memperlebar jarak dan menimbulkan kesalahpahaman.
“NU punya ciri khas dan tradisi yang baik. Jangan kotori itu dengan perilaku atau pernyataan yang dapat memecah persaudaraan. Perbedaan pandangan boleh saja, kritik juga sah, tetapi persaudaraan harus tetap dijaga,” pungkas Muhammad Mas'ud Silalahi. (rls/red)

