Tuntut Keadilan Bambang Setyawan dan Pembebasan Tapol, Aksi Kamisan Meulaboh Kembali Digelar
Meulaboh I Gebrak24.com — Ruang sipil yang kian menyempit dan mandeknya penyelesaian kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) memicu massa di Aceh Barat kembali turun ke jalan. Aliansi masyarakat yang tergabung dalam Aksi Kamisan Aceh Barat menggelar aksi damai di Tugu Simpang Pelor, Meulaboh, pada Kamis (3/9/2026).
Dalam aksi tersebut, massa membawa sejumlah tuntutan krusial. Mulai dari pengusutan tuntas kasus pembunuhan warga sipil, pembebasan tahanan politik (tapol), hingga desakan reformasi kebijakan negara yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
Koordinator Lapangan Aksi Kamisan Aceh Barat, Fahrol, menyoroti tajam kasus kematian Bambang Setyawan. Ia menilai tragedi tersebut menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan negara hukum dan demokrasi di Indonesia.
"Bambang yang hanya ingin pergi ke toko malah dituduh sebagai bagian dari demonstran hingga akhirnya kehilangan nyawa. Seharusnya negara menciptakan ruang aman bagi masyarakat, bukan justru membiarkan kekerasan di ruang sipil. Kami minta negara segera mengungkap kasus ini secara terang benderang dan mengadili pelakunya," tegas Fahrol di sela-of-aksi.
Selain menuntut keadilan bagi Bambang, massa juga menyuarakan desakan agar pemerintah segera membebaskan rekan-rekan mereka yang ditahan atas tuduhan makar. Fahrol menilai tuduhan tersebut merupakan bentuk kriminalisasi terhadap masyarakat menggunakan pasal-pasal karet demi membungkam suara kritis rakyat. Secara garis besar, terdapat lima tuntutan utama yang dilayangkan oleh massa Aksi Kamisan Meulaboh kepada pemerintah dan aparat penegak hukum, agar egera tangkap, ungkap, dan adili aktor di balik pembunuhan Bambang Setyawan. Hentikan kriminalisasi terhadap masyarakat sipil dan bebaskan seluruh tapol atas tuduhan makar.
Kemudian, mendesak pembentukan pengadilan khusus untuk mengusut dan mengadili pelaku pelanggaran HAM berat masa lalu dan hari ini.Tegakkan Supremasi Sipil: Kembalikan TNI ke barak dan jauhkan militer dari segala bentuk kebijakan politik praktis. Mendesak pemerintah segera menuntaskan pemulihan pascabencana di Sumatra, NTT, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
Fahrol menegaskan bahwa gerakan saban Kamis ini sama sekali tidak berniat untuk memusuhi institusi negara tertentu atau memicu konflik horizontal. Gerakan ini murni hadir sebagai pengingat dan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang masih langgeng
"Kami hadir bukan untuk memusuhi institusi negara ataupun menciptakan konflik. Kami hadir sebagai simbol perlawanan. Selama keadilan belum ditegakkan, korban belum memperoleh haknya, dan kebijakan negara belum berpihak pada rakyat, Aksi Kamisan akan terus berdiri di Simpang Pelor sebagai suara nurani," pungkas Fahrol di tengah kepungan yel-yel "Hidup Korban! Jangan Diam! Lawan Ketidakadilan!" yang diteriakkan massa. (tim/red/ops/mi)..

