Martin Sembiring: Melawan ‘Kelumpuhan Etis’ dan Arus Liberalisme dengan Nilai Surgawi
![]() |
| Martin Sembiring |
Medan I Gebrak24.com - Praktisi Konsuler Keluarga dan Tokoh Pendidik, Martin Sembiring, S.T., M.T. (yang akrab disapa PakJaras), memberikan refleksi kritis terkait makna kehadiran Kerajaan Surga di tengah krisis moral dan sosial modern. Mengambil momentum renungan harian Selasa Pekan IV Prapaskah, beliau menegaskan bahwa spiritualitas tidak boleh terjebak dalam ritual pasif, melainkan harus menjadi gerakan transformatif yang berdampak nyata bagi kedaulatan bangsa dan keluarga.
Dalam keterangannya di Medan (17/03/2026), Martin Sembiring menyoroti fenomena "Kelumpuhan Betesda" yang kini menjangkiti banyak lapisan masyarakat—sebuah kondisi di mana individu atau kelompok terjebak dalam mentalitas menunggu nasib tanpa keberanian untuk melakukan perubahan fundamental.
"Kehadiran Kerajaan Surga di bumi bukan sekadar konsep eskatologis yang jauh, melainkan perintah konkret untuk bangun, mengangkat beban, dan berjalan dengan prinsip. Kita tidak bisa terus-menerus terbaring di atas 'tilam' kebiasaan lama atau ketergantungan sistem yang tidak memerdekakan," ujar Martin.
Kritik Terhadap Liberalisme dan Relativisme
Lebih lanjut, Sekretaris Jenderal Pemuda Penggerak Ideologi Pancasila (PPIP) ini memberikan catatan keras terhadap arus liberalisme yang menggerus fundamen nilai di Indonesia. Beliau menilai bahwa kebebasan yang ditawarkan liberalisme seringkali bersifat semu karena melepaskan manusia dari akar kebenaran objektif dan Otoritas ilahi.
"Liberalisme rohani dan sosial cenderung membuat nilai benar-salah menjadi relatif demi kenyamanan ego semata. Padahal, menghadirkan nilai surga di bumi menuntut keteguhan prinsip. Kita harus seperti air kehidupan dalam visi Yehezkiel; ia mengalir untuk menawarkan 'asinnya' dunia, bukan justru ikut menjadi asin dan larut dalam arus zaman yang tanpa arah," tegasnya.
Kedaulatan Keluarga Sebagai Pondasi
Sebagai Konsuler Keluarga, Martin Sembiring juga menekankan bahwa "pertobatan" yang bermakna bangkit dan berjalan harus dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga. Ia mengajak setiap kepala keluarga untuk memiliki keberanian mendidik generasi yang mandiri dan tidak mudah terombang-ambing oleh doktrin-doktrin yang menjauhkan mereka dari jati diri bangsa dan keimanan yang kokoh.
Siaran pers ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan PakJaras dalam menyuarakan kedaulatan ideologi dan pemulihan tatanan sosial di Indonesia melalui tulisan-tulisan kritis dan pendampingan konseling. (tim/red).


