BREAKING NEWS


 

Opini: Perjuangan Rakyat Pancasila di Tanah Surga: Sebuah Manifesto Kesetiaan

 


Oleh: Martin Sembiring

Dalam lintasan sejarah peradaban, manusia sering kali terjebak dalam dikotomi yang tajam antara yang transenden dan yang imanen. Namun, bagi bangsa yang berpijak pada fundamen Ketuhanan Yang Maha Esa, kehadiran Ilahi tidak boleh hanya berhenti di ruang sakral peribadatan, melainkan harus mengejawantah dalam setiap denyut perjuangan sosial dan kedaulatan budaya.

Renungan Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap pada Pekan IV Prapaskah ini membuka tabir fundamental tentang bagaimana "Kerajaan Surga di Bumi" ditegakkan. Melalui refleksi atas nubuat Yesaya dan Injil Yohanes, kita diingatkan bahwa kedaulatan Allah tidak sedang menunggu hari esok di awan-awan; ia sedang dikerjakan di sini, di tanah ini, melalui kesetiaan radikal pada akar jati diri dan kedaulatan iman.

Dialektika Global: Antara Kesetiaan dan Keterasingan

Jika kita menengok panggung global, kita melihat bahwa eksistensi sebuah bangsa ditentukan oleh sejauh mana mereka setia pada "rahim" budayanya. Jepang tetap kokoh karena kesetiaannya pada budaya yang luhur. China bertahan dan melesat karena keteguhannya menyatukan budaya dan ideologi. Demikian pula Rusia, yang menjaga kedaulatannya melalui sintesis ideologi dan akar budaya yang kuat.

Sebaliknya, kita menyaksikan bagaimana Amerika Serikat perlahan meninggalkan akar budayanya, terperangkap dalam labirin individualisme ekstrem. Akibatnya, energi bangsa tersebut sering kali habis untuk melakukan intervensi terhadap kedaulatan pihak lain demi memuaskan egoisme personal yang tak berujung. Inilah bentuk "liberalisme spiritual" yang juga diingatkan oleh Mgr. Kornelius: ketika manusia merasa otonom dan melupakan kesetiaan pada sumber asalnya, ia akan merasa "ditinggalkan" dan kehilangan arah.

Pancasila sebagai Budaya dan Kedutaan Surga

Bagi kita, Indonesia, Pancasila bukanlah sekadar dokumen politik, melainkan "Budaya Bangsa" yang hidup—sebuah kristalisasi dari nilai-nilai luhur yang selaras dengan hukum Tuhan. Menghadirkan Kerajaan Surga di bumi Indonesia berarti menegakkan Pancasila secara murni dan konsekuen.

Proklamasi Yesus, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja,” menjadi mandat bagi kita untuk tidak menjadi bangsa yang pasif. Allah bekerja melalui sejarah, dan di Indonesia, sejarah itu adalah perjuangan rakyat untuk kedaulatan yang berkeadilan. Setiap upaya kita menjaga persatuan dan keadilan sosial adalah bentuk kerja sama kita dengan Sang Arsitek Agung dalam membangun "Kedutaan Besar Surga" di tanah ini.

Keluarga: Unit Tempur Terdepan

Visi ini menemukan benteng terdepannya dalam keluarga sebagai Ecclesia Domestica (Gereja Domestik). Di tengah arus relativisme modern yang mencoba merobohkan tatanan budaya, keluarga yang setia pada sakramen adalah unit tempur yang menjaga martabat bangsa. Militansi keluarga dalam mendidik generasi yang mencintai budayanya dan takut akan Tuhan adalah strategi utama melawan penetrasi individualisme yang destruktif.

Saat seorang ayah dan ibu mempraktikkan kasih yang berkorban, mereka tidak hanya menjalankan kewajiban agama, tetapi juga memperkuat ketahanan budaya bangsa.

Penutup: Menegakkan Takhta di Tanah Pancasila

Menjadi saksi iman di tengah masyarakat majemuk berarti berani menyatakan bahwa "Tanah Surga" adalah tanah di mana rakyatnya hidup rukun, berdaulat, dan setia pada akarnya. Kita dipanggil untuk bertobat dari ketidakpercayaan dan bangkit menjadi pribadi yang mengenali kehadiran Allah dalam setiap helai budaya kita.

Mari kita jadikan Indonesia sebagai lokus di mana kasih yang lembut dan kerja keras yang menghidupkan menjadi hukum tertinggi. Dengan keberanian dan ketaatan pada Pancasila sebagai budaya bangsa, kita teruskan sejarah perjuangan ini. Sebab di mana ada kesetiaan pada jati diri dan Tuhan, di sanalah kedaulatan-Nya tegak berdiri, membawa damai bagi seluruh rakyat. ***

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar