Refleksi Kemanusiaan: MAGA vs. Marhaenisme di Mata Paus Leo XIV
Oleh: Martin Sembiring
Dalam ritus Pekan V Masa Prapaskah, Mazmur 105:8 menggemakan sebuah janji eksistensial: “Untuk selama-lamanya Tuhan ingat akan perjanjian-Nya.” Sebuah kalimat yang dalam konteks teologis berarti kesetiaan mutlak Allah pada kehidupan. Namun, di panggung geopolitik hari ini, "perjanjian" tersebut tampak sedang dikoyak oleh ambisi kekuasaan yang tuna-kemanusiaan.
Dunia saat ini sedang menyaksikan sebuah paradoks moral yang tajam. Di satu sisi, ada gerakan MAGA (Make America Great Again) yang dipimpin Donald Trump. Di sisi lain, muncul suara kenabian dari Vatikan melalui Paus Leo XIV yang secara tidak langsung beresonansi dengan nafas Marhaenisme—sebuah ideologi kerakyatan yang kita kenal akrab di bumi Nusantara.
*MAGA: Wajah Liberalisme Militeristik*
Gerakan MAGA, yang sering kali mengklaim sebagai pembela nilai-nilai tradisional, belakangan justru menunjukkan wajah Liberalisme Politik yang agresif. Paham ini menghalalkan segala cara demi supremasi nasional ("America First"), termasuk penggunaan kekuatan udara untuk menghancurkan kedaulatan bangsa lain.
*Marhaenisme: Suara Pembelaan Bagi yang Tertindas*
Di titik inilah, suara Paus Leo XIV bertemu dengan esensi Marhaenisme. Jika Marhaenisme adalah alat perjuangan untuk membela kaum kecil (Marhaen) dari penindasan exploitation de l’homme par l’homme, maka seruan Paus adalah bentuk pembelaan terhadap "Marhaen-Marhaen" di Iran yang menjadi korban imperialisme modern.
Paus Leo XIV, yang terpilih sebagai Paus Amerika pertama, memiliki rekam jejak mengkritik kebijakan Donald Trump dan JD Vance. Ia mendukung upaya melawan perubahan iklim dan menentang rasisme ¹.
*Perjanjian Kehidupan vs. Ego Kekuasaan*
Masa Prapaskah adalah momen untuk kembali pada "Perjanjian." Bagi umat Kristiani, Salib adalah kedaulatan kasih yang tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Bagi seorang Marhaenis, kedaulatan sejati adalah ketika tidak ada lagi manusia yang tertindas oleh sistem kapitalisme global yang haus darah.
Ketegangan antara MAGA dan Marhaenisme di mata Paus Leo XIV adalah ujian bagi nurani dunia. Apakah kita akan membiarkan liberalisme militeristik mendikte masa depan bumi, atau kita akan berdiri bersama Sri Paus untuk menuntut penghentian segala bentuk pengeboman udara selamanya?
*Penutup*
Selama Allah mengingat perjanjian-Nya, harapan akan kedamaian tidak akan pernah padam. Namun, harapan itu menuntut tindakan nyata: berani bersuara melawan imperialisme dan menolak segala bentuk penindasan atas nama kedaulatan semu. Pada akhirnya, kedaulatan yang hakiki bukan diukur dari berapa banyak bom yang mampu dijatuhkan, melainkan dari seberapa besar sebuah bangsa mampu memuliakan kehidupan setiap insan, bahkan di tempat yang paling jauh sekalipun.

