Jacob Ereste : Jumhur Hidayat dan Amanah Buruh: Ujian di Tengah Cuaca Ekstrem dan Suhu Politik
Banten I Gebrak.com - BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) telah menginformasikan hasil pantauan dan prediksi tentang cuaca, iklim dan fenomena geofisika di Indonesia dengan rincian tentang hujan lebat dan tanah longsor, angin puting beliung, pohon tumbang dan banjir serta angin kencang.
Udara yang cukup panas pada sepekan terakhir sungguh terasa menyengat, tak jelas apa hubungannya dengan listrik padam lalu beberapa saat kemudian hidup kembali lalu menyengat sejumlah barang elektronik menjadi rusak -- terbakar -- seakan mengisyaratkan pada momentum reshuffle kabinet yang menampilkan wajah baru seorang tokoh perburuhan untuk mengurus masalah Lingkungan Hidup -- yang akan sekaligus menjabat Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) dalam Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto yang diharap purna sampai tahun 2029.
Informasi yang diungkap BMKG memang tidak bisa menjawab cara mengatasi sejumlah fenomena alam yang ekstrem itu. Apalagi hendak diharap menyelesaikan sejumlah kerugian yang dialami oleh warga masyarakat terdampak, seperti terbakarnya kipas angin justru pada saat suhu udara begitu panas, termasuk rice-cooker yang jebol sehingga menambah berat biaya hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit seperti sekarang di Indonesia. Dari cuaca iklim yang ekstrem cukup gawat ini seakan menjadi metafora tentang suasana politik di Indonesia yang juga sedang meregang, diantara kritik keras dari para ahli tata negara hingga terkesan membuat para penghuni Istana pun merasa gerah.
Panasnya politik di Indonesia seperti berbanding lurus dengan panasnya udara yang justru ikut terkesan merusak alat pendingin udara sehingga aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari -- sebagai rakyat jelata -- dapat terpenuhi, meski tak pernah sampai berlimpahan. Karena itu, konsumsi air pun semakin diperlukan, utamanya untuk diminum yang sudah tidak lagi dikuasai -- mestinya dapat diatur -- oleh negara, seperti amanah dari UUD 1945.
Dalam kontek air inilah para aktivis lingkungan hidup sudah berulang kali mengingatkan erat kaitannya hutan, lingkungan hidup yang tidak cuma mengurus serta memantau pembuangan limbah berbahaya yang bisa mematikan makhluk yang ada, termasuk manusia.
Syahdan, menurut para ahli bahwa cuaca ekstrem dan lingkungan hidup seperti sepasang kekasih yang tidak terpisah untuk saling mengisi dan menjaga. Hanta saja masalah perburuhan yang selama ini merupakan habitat kekuasaan Jumhur Hidayat -- tiba-tiba didapuk menjadi Menteri Lingkungan Hidup, tentu saja bagi sebagian besar aktivis buruh dan kawan-kawan kaum pergerakan sangat menggembirakan. Setidaknya, Jumhur Hidayat dapat ikut mewarnai Kabinet Merah Putih agar tidak cuma sekedar melambai dari tiupan angin yang mengikuti arah yang tidak bisa dipastikan ke mana muaranya.
Bagi sebagian kawan-kawan buruh, ada merasa cemas, jabatan Kementerian Lingkungan Hidup yang dibebankan pada Jumhur Hidayat, akan membuat urusan buruh yang sangat kompleks dan rumit bisa semakin runyam masa depan kaum buruh menggapai kesejahteraan yang tidak layak ditakar dalam angk minimal, karena saatnya sekarang upah buruh layak diberlakukan guna menghantar generasi Indonesia Emas pada 20 tahun mendatang.
Meski begitu, toh ucapan selamat kepada Jumhur Hidayat untuk mengemban amanah mulia rakyat Indonesia -- meski lewat jalan yang berbeda -- perlu disampaikan sambil berdo'a tetap dapat mewakili suara kaum buruh Indonesia yang tampak semakin terpinggirkan dalam pengertian struktur maupun kultur di negeri kita. Selamat ! ***
Banten, 28 April 2026


