Mengapa Saya Menulis Puisi (300 Bait): Syair HUT Banda Aceh
0 menit baca
L. K. Ara
Saya tidak menulis syair ini untuk sekadar merayakan tanggal.
Tanggal bisa dicetak di baliho, diumumkan di podium, dan dilupakan esok hari.
Tetapi Banda Aceh—tidak pernah sesederhana itu.
Saya menulis karena kota ini bukan hanya ruang,
melainkan napas panjang sejarah
yang kadang kita hirup tanpa benar-benar kita sadari.
Tiga ratus bait bukanlah angka yang ringan.
Ia bukan keputusan spontan,
melainkan perjalanan batin yang harus ditempuh
dengan sabar, dengan ingatan, dan dengan kejujuran.
Saya menulis 300 bait
karena Banda Aceh tidak bisa diringkas dalam satu halaman,
tidak cukup dalam satu pidato,
bahkan tidak selesai dalam satu generasi.
Di kota ini,
ada jejak Kesultanan yang pernah berdiri dengan wibawa,
ada suara azan yang tak pernah lelah mengajak pulang,
ada laut yang pernah membawa duka,
dan ada manusia yang tetap memilih bangkit—
meski berkali-kali diuji oleh kehilangan.
Saya tidak menulis syair ini untuk sekadar merayakan tanggal.
Tanggal bisa dicetak di baliho, diumumkan di podium, dan dilupakan esok hari.
Tetapi Banda Aceh—tidak pernah sesederhana itu.
Saya menulis karena kota ini bukan hanya ruang,
melainkan napas panjang sejarah
yang kadang kita hirup tanpa benar-benar kita sadari.
Tiga ratus bait bukanlah angka yang ringan.
Ia bukan keputusan spontan,
melainkan perjalanan batin yang harus ditempuh
dengan sabar, dengan ingatan, dan dengan kejujuran.
Saya menulis 300 bait
karena Banda Aceh tidak bisa diringkas dalam satu halaman,
tidak cukup dalam satu pidato,
bahkan tidak selesai dalam satu generasi.
Di kota ini,
ada jejak Kesultanan yang pernah berdiri dengan wibawa,
ada suara azan yang tak pernah lelah mengajak pulang,
ada laut yang pernah membawa duka,
dan ada manusia yang tetap memilih bangkit—
meski berkali-kali diuji oleh kehilangan.
Saya menulis karena saya takut lupa.
Dan lebih dari itu—
saya takut kita semua belajar melupakan.
Puisi ini adalah cara saya menjaga ingatan,
menyusun kembali serpihan sejarah
yang tercecer di antara pembangunan dan perayaan.
Serambi Mekkah bukan sekadar julukan.
Ia adalah tanggung jawab batin.
Ia adalah cermin— apakah kita masih pantas menyebut diri sebagai penjaga nilai, atau hanya pewaris nama tanpa makna?
Saya menulis 300 bait
karena setiap sudut Banda Aceh punya cerita:
tentang masjid yang tidak hanya berdiri sebagai bangunan,
tetapi sebagai saksi;
tentang jalan-jalan yang menyimpan langkah para pejuang;
tentang rakyat yang diam-diam lebih kuat dari yang terlihat.
Puisi ini juga lahir dari kegelisahan.
Karena di tengah kemajuan,
kadang kita lebih sibuk merayakan bentuk
daripada menjaga isi.
Kata-kata dalam syair ini bukan sekadar rangkaian indah.
Ia adalah pertanyaan.
Ia adalah teguran halus.
Ia adalah doa yang disamarkan dalam bait.
Saya ingin Banda Aceh tidak hanya dikenang karena masa lalunya,
tetapi juga dihargai karena kesadarannya hari ini.
Menulis 300 bait adalah cara saya berkata:
bahwa cinta kepada daerah
tidak cukup hanya dengan bangga,
tetapi harus dengan memahami.
Saya menulis karena saya percaya:
puisi masih punya tempat
di tengah dunia yang semakin bising.
Puisi bisa menjadi ruang sunyi
di mana kita kembali bertanya:
siapa kita, dari mana kita berasal,
dan ke mana kita hendak pergi.
Syair ini bukan milik saya sepenuhnya.
Ia milik Banda Aceh.
Ia milik mereka yang pernah hidup,
yang sedang bertahan,
dan yang akan datang suatu hari nanti
mencari makna dari tanah ini.
Jika suatu saat bait-bait ini dibaca,
saya tidak berharap orang mengingat nama saya.
Saya hanya berharap—
mereka mengingat Banda Aceh
dengan cara yang lebih dalam.
Karena pada akhirnya,
menulis 300 bait bukan tentang panjangnya puisi,
melainkan tentang kesungguhan menjaga makna.
Dan selama kota ini masih berdiri,
selama doa masih dipanjatkan dari menara-menara,
selama sejarah masih ingin didengar—
maka syair ini tidak akan pernah benar-benar selesai.
Dan lebih dari itu—
saya takut kita semua belajar melupakan.
Puisi ini adalah cara saya menjaga ingatan,
menyusun kembali serpihan sejarah
yang tercecer di antara pembangunan dan perayaan.
Serambi Mekkah bukan sekadar julukan.
Ia adalah tanggung jawab batin.
Ia adalah cermin— apakah kita masih pantas menyebut diri sebagai penjaga nilai, atau hanya pewaris nama tanpa makna?
Saya menulis 300 bait
karena setiap sudut Banda Aceh punya cerita:
tentang masjid yang tidak hanya berdiri sebagai bangunan,
tetapi sebagai saksi;
tentang jalan-jalan yang menyimpan langkah para pejuang;
tentang rakyat yang diam-diam lebih kuat dari yang terlihat.
Puisi ini juga lahir dari kegelisahan.
Karena di tengah kemajuan,
kadang kita lebih sibuk merayakan bentuk
daripada menjaga isi.
Kata-kata dalam syair ini bukan sekadar rangkaian indah.
Ia adalah pertanyaan.
Ia adalah teguran halus.
Ia adalah doa yang disamarkan dalam bait.
Saya ingin Banda Aceh tidak hanya dikenang karena masa lalunya,
tetapi juga dihargai karena kesadarannya hari ini.
Menulis 300 bait adalah cara saya berkata:
bahwa cinta kepada daerah
tidak cukup hanya dengan bangga,
tetapi harus dengan memahami.
Saya menulis karena saya percaya:
puisi masih punya tempat
di tengah dunia yang semakin bising.
Puisi bisa menjadi ruang sunyi
di mana kita kembali bertanya:
siapa kita, dari mana kita berasal,
dan ke mana kita hendak pergi.
Syair ini bukan milik saya sepenuhnya.
Ia milik Banda Aceh.
Ia milik mereka yang pernah hidup,
yang sedang bertahan,
dan yang akan datang suatu hari nanti
mencari makna dari tanah ini.
Jika suatu saat bait-bait ini dibaca,
saya tidak berharap orang mengingat nama saya.
Saya hanya berharap—
mereka mengingat Banda Aceh
dengan cara yang lebih dalam.
Karena pada akhirnya,
menulis 300 bait bukan tentang panjangnya puisi,
melainkan tentang kesungguhan menjaga makna.
Dan selama kota ini masih berdiri,
selama doa masih dipanjatkan dari menara-menara,
selama sejarah masih ingin didengar—
maka syair ini tidak akan pernah benar-benar selesai.
Takengon, Kamis, 23 April 2026


