Opini: Etika yang kian pudar di Era Dldigital, di Mana Peran Pengawasan?
Oleh : Teuku Saifuddin Alba
Di tengah pesatnya kemajuan zaman dan teknologi, manusia justru dihadapkan pada tantangan serius dalam menjaga nilai-nilai dasar kehidupan, yakni etika, adab, sopan santun, serta tata cara berbicara dan berperilaku. Sebagai makhluk ciptaan Allah, sudah sepatutnya kita menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut dalam setiap aspek kehidupan, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.
Namun, realitas yang kita saksikan hari ini justru berbanding terbalik.
Media sosial yang sejatinya menjadi sarana komunikasi dan berbagi informasi, kini kerap disalahgunakan oleh segelintir oknum untuk menyebarkan ujaran yang tidak beradab, kata-kata kotor, hingga perilaku yang jauh dari norma kesopanan. Fenomena ini bukan hanya memprihatinkan, tetapi juga mencerminkan kemerosotan moral yang tidak bisa dianggap remeh.
Lebih ironis lagi, kondisi ini seolah dibiarkan tanpa penanganan yang serius. Pihak-pihak yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab dalam menjaga ketertiban serta etika publik, terkesan tutup mata. Tidak ada tindakan tegas, tidak ada peringatan yang memberi efek jera. Padahal, jika dibiarkan terus menerus, hal ini akan menjadi budaya buruk yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kita tidak boleh menormalisasi perilaku tidak beradab dengan dalih kebebasan berekspresi. Kebebasan tanpa batas justru akan melahirkan kekacauan. Negara harus hadir, bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai pengawal moral publik. Penegakan aturan dan edukasi etika digital harus berjalan seiring.
Masyarakat juga memiliki peran penting. Setiap individu harus mampu menjadi filter bagi dirinya sendiri. Bijak dalam berkata, santun dalam bertindak, dan sadar bahwa setiap ucapan memiliki dampak. Jangan sampai kemajuan teknologi justru menyeret kita pada kemunduran akhlak.
Sudah saatnya semua pihak, baik pemerintah, tokoh masyarakat, maupun pengguna media sosial, bersatu untuk mengembalikan marwah etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika tidak dimulai sekarang, maka kita sedang membuka pintu bagi kehancuran nilai-nilai yang selama ini kita junjung tinggi. ***


