Jacob Ereste : Diskusi Rutin Kamis-Senin GMRI Disambangi Sultan Saladin dan Permaisuri Dari Keraton Kanoman Cirebon
Pecenongan I Gebrak24.com - Pertemuan rutin Kamis-Senin GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia), 21 Mei 2026 dikunjungi secara khusus Sultan Saladin dan permaisuri dari Kesultanan Kanoman, Cirebon. Acara ngobrol santai meluas ke berbagai sektor terkait dengan pemerintah, termasuk nilai dollar yang melonjak hingga kecemasan dari fenomena gerhana bulan pada bulan ramadhan lalu yang dibaca Sultan Salatin sebagai isyarat yang harus menjadi perhatian dan kewaspadaan bersama, untuk diantisipasi oleh semua pihak agar tidak sampai menimbulkan kerugian dan menelan korban.
Tentang pemahaman spiritual, Sultan Saladin menginformasikan masih banyak Orang yang beranggapan bahwa spiritual itu klenik. Padahal, orang mencari ilmu dan belajar itu pun bagian dari laku spiritual. Artinya, sosialisasi tentang pengertian dan pemahaman spiritual masih diperlukan agar nilai-nilai yang terpenting dari spiritualitas itu, bisa menghantar bangsa dan negara Indonesia menjadi mercu suar yang menerangi dunia.
Topik diskusi informal GMRI sempat merespon kenaikan dollar yang menekan nilai rupiah. Dan untuk dapat menghadang pengaruh dollar yang cenderung terus melonjak, akan lebih efektif dan strategis bila pemerintah membuka sebanyak mungkin lapangan kerja sehingga uang bisa beredar dalam masyarakat. Pendapat dan saran ini selaras dengan gagasan Sri Eko Sriyanto Galgendu agar pemerintah tidak memperbanyak hari libur. Sebab hari libur artinya akan mengurangi mobilitas dan aktivitas warga masyarakat. Akibatnya, perputaran uang atau ekonomi juga menjadi terhambat. Tidak berputar, alias libur juga, kata pengusaha yang menekuni kuliner sejak 15 tahun silam di kawasan ring satu Istana Negara ini.
Meski begitu, seloroh Sultan Saladin saat menerima telepon dari seorang sahabat dari Jawa Tengah, ia mengatakan bahwa manusia yang paling merdeka di negeri ini adalah Mas Eko, kata Sultan yang biasa bertutur begitu sapaannya kepada Pemimpin Spiritual Nusantara yang semakin berkibar-kibar namanya karena begitu aktif tampil di berbagai acara, utamanya podcast politik yang panas.
Begitulah kata Sultan Saladin, bahwa manusia yang paling merdeka di negeri ini ada adalah Sri Eko Sriyanto Galgendu, ujarnya ketika menjawab seloroh Mas Gagu dalam pembicaraan santai lewat telepon genggamnya.
Bayar utang Kereta Cepat 540 milyar setiap bulan jelas menyedot dana perawatan fasilitas kereta api, sehingga kecelakaan kereta api di Bekasi sungguh tidak masuk akal, sebab 15 menit sebelumnya sudah bisa diketahui dan bisa diantisipasi oleh petugas pengawas bidang pemantauan.
Topik diskusi rutin informal GMRI kali ini pun meluas hingga masalah fasilitas publik di negeri kita ini yang kurang baik dan kurang bagus, misalnya dibanding dengan fasilitas publik di Negara Vietnam yang relatif lebih baik, menurut Sultan Saladin kerena menang pernah touring mengendarai motor hingga ke ujung wilayah perbatasan Vietnam dengan negara China. Dalam perjalanan sepanjang 400 kilometer, nyaris tidak ada jalan yang berlubang, kata Sultan Saladin yang dibenarkan oleh sang permaisuri yang selalu setia mendampingi seperti kehadiran mereka berdua ke Sekretariat GMRI sambil menyantap bakso Pak Botak yang gurih karena racikan kaldu dari kuahnya yang khas. Seperti minuman segar beras kencur dingin atau yang panas.
Pada akhirnya, topik diskusi memuncak pada sosol ideal seorang pemimpin di Indonesia yanh harus dan mutlak memiliki sifat dan sikap yang bijaksana. Sehingga kebijakan yang dilakukan bisa diterima oleh rakyat, karena kebijakan yang dilakukan dapat selaras dengan lingkungan dan aspirasi serta kehendak rakyat.
Pendapat tentang sikap seorang pemimpin yang bijak itu, diakui oleh Sri Eko Sriyanto Galgendu tidak mudah dilakukan. Apalagi untuk mereka yang terlanjur merasa lebih senior atau tua dalam pengertian usia, enggan untuk menerima pendapat mereka yang lebih muda, apalagi harus menerima kritik atau sekedar saran.
Diskusi yang juga terkesan mengumbar kangen dan curhat ini, sungguh tidak terasa sudah lebih dari tiga jam, hingga topik kelahiran, kepemimpinan sampai kematian jadi bahasan. Terutama terkait dengan lahan pemakaman dan biaya yabg tidak murah. Apalagi pada waktu belakangan ini ada wacana kavling di pekuburan akan dikenakan pajak. Artinya, beban hidup rakyat memang semakin berat, karena tetap harus menanggung biaya anggota keluarga yang meninggal dunia. ***
Pecenongan, 21 Mei 2026

