Tumpukan Uang dan Tepuk Tangan
0 menit baca
L K Ara
Di layar televisi
uang ditumpuk seperti bata
triliunan rupiah berdiri gagah
dengan senyum pejabat
dan kilatan kamera.
Negeri pun diminta kagum.
“Lihatlah keberhasilan!”
kata pengeras suara
sementara rakyat kecil
masih sibuk menghitung
harga cabai dan minyak goreng.
Tapi aneh,
uangnya ada
kasusnya samar
pelakunya seperti kabut
yang lewat di pegunungan pagi.
Tak ada wajah jelas.
Tak ada cerita utuh.
Tak ada babak pengadilan
yang bisa diikuti rakyat
selain seremoni meja panjang
dan koper-koper uang
yang difoto dari berbagai sudut.
Seperti sulap.
Abrakadabra—
uang muncul.
Tepuk tangan terdengar.
Pertanyaan dianggap gangguan.
Di negeri ini
kadang hukum bekerja
seperti wayang tanpa dalang terlihat.
Ada suara,
ada gerak,
ada klimaks,
tapi penonton pulang
tanpa tahu siapa sebenarnya tokoh jahat.
Mungkin ini penegakan hukum.
Mungkin juga hasil lobi-lobi
di ruang berpendingin
dengan kopi mahal
dan kalimat yang dibisikkan perlahan:
“Yang penting uang kembali.”
Kalau benar negosiasi
katakan negosiasi.
Kalau benar penegakan hukum
bukalah seluruh kisahnya.
Rakyat tak alergi pada keberhasilan.
Rakyat hanya ingin terang.
Karena terlalu lama
negeri ini gemar memamerkan hasil
tanpa memperlihatkan proses.
Dan rakyat perlahan dilatih
menjadi penonton profesional:
tepuk tangan dulu,
mengerti belakangan.
Mirip paduan suara
yang berdiri rapi
di bawah foto pemimpin besar
dengan senyum yang wajib.
Sementara di desa-desa
jalan masih berlubang
sekolah bocor saat hujan
dan puskesmas kekurangan obat.
Namun uang triliunan itu
barangkali nanti berubah rupa:
menjadi motor proyek,
mobil proyek,
kaos kaki proyek,
komputer proyek
seminar proyek,
spanduk proyek,
dan pesta EO
berlampu emas.
Semua atas nama rakyat
yang tak pernah diajak duduk
di meja perencanaan.
Ah negeri ini,
kadang terlalu pandai
menumpuk uang di meja konferensi
namun terlalu gugup
menumpuk kejujuran
di depan publik. <Pesan ini diedit>. ***

