BREAKING NEWS


 

Jacob Ereste : Kesaksian Sri Eko Sriyanto Galgendu Yang Dianggap Kontroversial dan Manuver Politik


Pecenongan I Gebrak24.com - Setidaknya pada bulan Mei 2026 ini yang juga masih tetap dikenang bagi segenap warga bangsa Indonesia sebagai pertanda dari Kebangkitan Nasional, untuk perjalanan spiritual Sri Eko Sriyanto Galgendu sendiri, terbilang sungguh istimewa. Betapa tidak, ramai komentar tentang sosoknya yang relatif dekat dengan penulis -- untuk memberi kesaksian perjalanan spiritual yang sudah dia lakukan sejak puluhan tahun silam -- mendapat komentar dari berbagai pihak bila manuver yang dia lakukan sungguh luar biasa dalam berbagai acara dan momentum tingkat nasional di tanah air kita. 

Minimal mulai dari kehadirannya pada perayaan Trisuci Waisak Nasional 2570 yang mengusung Pindapata Buddhis Era Sebagai Tradisi Yang Luhur pada 10 Mei 2026 di Kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, dengan ikut membacakan do'a spesial untuk Bhikkhu Jinnadhamo Mahathera seperti yang termuat dalam "Kitab MA HA IS MA YA" yang menandai "Batas Waktu Pengabdian". Pada kesempatan ini pun, Sri Eko Sriyanto Galgendu berkenan memberikan "Kitab MA HA IS MA YA" kepada Ketua Umum Persatuan Umat Budha Indonesia (Permabudi), Prof. Philip K. Wijaya.

Lalu acara yang tidak kalah spektakuler topiknya diundang secara khusus pada acara ulang tahun yang dikelola oleh Iwan Sumule pada 11 Mei 2026 yang dimanfaatkan untuk konsolidasi gerakan demokrasi di Rumah Demokrasi, Jl. Veteran I No. 27, Jakarta Pusat, terus berlanjut pada Acara Obrolan Sabtu, 16 Mei 2026 yang bertajuk "JK Efek dan Nasib Trah Jokowi 2029" sebagai Nara sumber utama pada Podcast Obor Rakyat Reborn" bersama sejumlah tokoh nasional yang lain, di Tjikko Coffee, Jl. Ciasem, Cikini, Jakarta Pusat. 

Hingga menjadi nara sumber pada acara podcast dalam sejumlah acara yang semakin riuh jadi pembicaraan publik yang menghebohkan, seolah-olah Sri Eko Sriyanto Galgendu sedang melakukan manufer politik yang mendapat tanggapan istimewa dari Ade Armando dengan meluncurkan podcast pribadinya yang tampil tunggal dengan membatasi topik utama yang sudah diungkapkan Pemimpin Spiritual Nusantara itu yang acap disebut sebagai penasehat spiritual Joko Widodo sejak melangkah untuk menjadi Walikota Solo, hingga Gubernur DKI Jakarta sampai hasrat yang mendorong Joko Widodo menjadi Presiden di negeri ini.

Landasan analisis Ade Armando yang menyoroti secara khusus dan spesial pendapat Sri Eko Sriyanto Galgendu yang diasumsikan melakukan kritik politik terhadap Joko Widodo yang termuat  pada Forum Keadilan TV yang beredar secara meluas pada 19 Mei 2026. Namun sejak awal tayangan pembahasan Ade Armando langsung menteror pemirsa dengan mengatakan bahwa video tayangan ini hanya untuk mereka yang punya logika. Jika tidak punya logika, skip saja kata pengantar tayangan Ade Armando yang cukup menguasai ilmu psikologis komunikasi untuk menggedor sekaligus menteror pemirsa menjadi terhipnotis. 

Kemudian Ade Armando mulai pasang omong dengan aksen yang menekan pemirsa yang percaya pada masalah mistik. Dengan cara itu dia membangun pertanyaan yang menyudutkan pemirsa yang tertarik pada tayangan podcast Sri Eko Sriyanto Galgendu adalah makhluk yang percaya pada masalah mistik. 

Dengan narasi seperti itu, Ade Armando merasa layak dan pantas bertanya sekaligus membenturkan politik dan mistik sebagai landasan kritik. Sebab kritik politik haris berdasarkan fakta dan data, sementara kritik dari sudut pandang mistik atau klenik bisa mengacaukan demokrasi yang harus dijaga. Dari sudut pandangan serupa ini tentu, tentu saja berbeda. Sebab masalahnya yang ingin diungkap Sri Eko Sriyanto Galgendu tidaklah dimaksudkan sebagai kritik, namun semata-mata hanya ingin memberikan kesaksian yang dia ketahui baik secara langsung maupun dalam penjelajahan Telik sandi yang berbasis pada spiritualitas. 

Apalagi kemudian, Ade Armando menarik kesaksian Sri Eko Sriyanto ini pada mitologi sebagai gumpalan dari cerita yang suci, semacam dongeng dan legenda dari tradisi yang lebih bersifat supranatural.  Cerita dan kisah yang masih dianggap sakral ini sesungguhnya sekedar untuk menggambarkan etika dan moral yang menjadi cermin untuk dari akhlak manusia yang bersangkutan. 

Kesan manuver politik Sri Eko Sriyanto Galgendu sebagai Pemimpin Spiritual Nusantara yang diakui oleh sejumlah tokoh dan pemuka agama-agama yang ada di Indonesia memang sudah cukup lama terpendam. Setidaknya sejak surat pernyataan kepercayaan diberikan oleh Kardinal Ignatius Suharyo pada tahun 2019 yang menyatakan secara tertulis bahwa : *Mas Eko, saya kagum akan kesungguhan dan totalitas panjenengan  merawat dan mengembangkan Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia.


Semoga buah-buahnya semakin dirasakan oleh seluruh bangsa.* Demikian pernyataan resmi Kardinal Ignatius Suharyo pada beberapa tahun silam. Sehingga Sri Eko Sriyanto Galgendu wajar tergerak hatinya untuk angkat bicara memberi kesaksian untuk meredakan kegaduhan yang tak kunjung usai di negeri ini terus membicarakan Joko Widodo.

Dan memang harus diakui juga bahwa mistik dan politik dalam persepsi kebingungan Ade Armando memiliki hubungan yang kompleks. Dalam budaya politik misalnya, bukan mustahil nuansa mistik dan frekuensi spiritual dapat mempengaruhi keputusan politik. Lalu apanya yang salah dalam realitas masyarakat kita yang masih memiliki kepercayaan kuat pada hal-hal yang mistik -- supranatural  -- dan spiritual ? 

Lantas apa salahnya, jika Aira mistik dapat ikut mengubah opini publik atau legitimasi kekuasaan yang korup dan zalim ? 

Kendati campur tangan pandangan yang berpijak pada mistik dalam politik dapat menimbulkan kontroversi serta potensi yang membahayakan jika tidak diimbangi oleh rasionalitas dan akuntabilitas, toh rasionalitas pun yang tidak diimbangi oleh spiritualitas telah membuat negeri kita terkesan menjadi kacau balau. Sebab korup, sikap khianat dan perilaku zalim yang terjadi akibat nyata dari abainya sikap dan sifat pada etika, moral serta akhlak mulia manusia. Padahal, etika, moral dan akhlak manusia terpelihara dalam kesadaran, pemahaman serta kecerdasan spiritualitas yang harus membimbing intelektualitas. 

Begitulah realitasnya, para koruptor dan pengkhianat di negeri kita ini justru dominan dilakukan oleh mereka yang pintar, tapi tidak ada etika, tidak bermoral  karena isi kepalanya cuma gumpalan material belaka. Dan hatinya kering tak ada kesejukan yang mengalir ke dalam batin dan jiwa, karena kepongahan intelektual yang mengabaikan spiritual. Judul dari tulisan ini sungguh telah menjadi topik pembicaraan yang serius dalam dua babak pertemuan rutin GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) pada Kamis, 21 Mei dan pada hari Senin 25 Mei 2026 di Sekretarian GMRI Jl. Ir. H Juanda No. 4 A, Jakarta Pusat.

Pecenongan, 25 Mei 2026

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar