Jacob Ereste : Silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh Dari Sosok Prof.Dr. Sri Edi Swasono MPIA
(Bagian Kesatu)
Banten I Gebrak24.com - Saya belum pernah menemukan seorang intelektual khususnya dari kalangan kampus yang memastikan dirinya untuk terus menerbitkan satu buku setiap tahun, kendati tidak harus dikaitkan dengan hari ulang tahun dirinya, yaitu Prof. Dr. Sri Edi Swasono.
Sesungguhnya, Mas Sri Edi Swasono -- demikian sapaan akrab kami kalangan aktivis kampus Universitas Islam Indonesia yang giat menerbitkan majalah kampus Muhibbah -- yang kemudian dibredel berganti nama menjadi Majalah Himmah, telah memposisikan beliau menjadi idola kami sekaligus menjadi tumpuan rujukan acuan dalam pengelola media pemberitaan untuk mahasiswa Indonesia tahun 1980-an.
Dalam usia yang masih relatif muda, Prof. Sri Edi Swasono namanya yang sudah berkibar-kibar di kalangan intelektual dan kampus di Indonesia, baru sekitar berusia 40 tahun, sesuai dengan pengakuan Prof. Dr. Sri Edi Swasono sendiri, yang menulis tanggal kelahirannya pada 16 September 1939. Namun lantaran ada kekeliruan teknis administrasi catatan tahun kelahiran beliau jadi tertulis 16 September 1940, seperti yang termuat dalam berbagai dokumen dan ijazah serta biografi resminya. Hingga pada tahun ini 2026 mestinya usia beliau 89 tahun. Namun sebagai intelektual yang taat tetap bijak menerakan usianya 86 tahun, disesuaikan dengan catatan resmi yang sah.
Bunga rampai "Asah, Asih, Asuh" adalah buku kumpulan tulisan Prof. Sri Edi Swasono entah yang keberapa sudah diterbitkan jumlahnya, karena memang karyanya cukup banyak. Dan "Asah, Asih, Asuh" adalah buku bunga rampai yang menandai 100 tahun Tamansiswa, 3 Juli 1922 - 2022, memuat berbagai kekhususan yang ditulis selama menjabat Ketua Umum Majelis Luhur Tamansiswa sekaligus Ketua Pembina Yayasan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, sehingga lebih khas untuk lingkungan Tamansiswa yang dominan tulisannya sudah dimuat dalam Harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta.
Buku bunga rampai yang sangat sarat dengan muatan nilai-nilai pendidikan dan lingkungan kampus serta nuansa budaya ini, tak hanya meyakinkan Mas Sri Edi Swasono sebagai guru besar, tapi juga penyandang gelar tertinggi dari lingkungan Tamansiswa, yaitu "Ki", sebagai julukan untuk mahaguru dari perguruan yang bercita-cita hendak mencerdaskan anak bangsa Indonesia.
Menurut Prof. Sri Edi Swasono, UUD 2002 Tidak Patut Lagi Sebagai UUD 1945 (hal 40 : Asah, Asih, Asuh) yang diterbitkan Yayasan Hatta, tahun 2022 cukup komplit memuat berbagai masalah penting untuk mendapat perhatian bagi bangsa dan negara Indonesia yang menaruh perhatian pada masalah pendidikan. Mulai dari masalah Bhineka tunggal Ika (hal 1) hingga Kaidah Nasionalisme (46) atau Kaidah Hutang Luar Negeri (hal 49) sampai masalah Memberdayakan Petani Mengatasi Ketergantungan Pangan (hal 61) bahkan Model Pendidikan Nasional, Paradoks Indonesia dan Pembangunan Budaya Bangsa (hal 77) dikupas tuntas oleh Prof. Sri Edi Swasono dengan bahasa yang enak, sederhana untuk dibaca dan dicerna.
Yang tak kalah menarik uraian sang Profesor tentang "Mengampu Berita Dari Langit" yang terkesan memiliki getaran spiritual yang sakral, sangat mendalam (hal 106) dalam tampilan yang mengesankan sebagai prosa lirik yang bercerita tentang "Ki Ageng dan Nyi Ageng -- sebutan kehormatan untuk mereka yang dianggap tua dalam arti keilmuan dan pengetahuan serta pengalaman -- untuk gelar sebutan kehormatan bagi warga Tamansiswa.
Kesan dari lelenguh sang Profesor, "Begitu mudah Pendidikan Nasional kita menghancurkan ke-Indonesia-an. Sebab "Di Penghujung millenium lalu, kita tertipu, lengah wacana, tumpul nalar, terjerat hiruk pikuk global, lalu mencemooh nasionalisme dan patriotisme sendiri, menghancurkan Ibu Pertiwi dan Kedaulatan Negeri.
Karya puisi ini, kata Prof. Sri Edi Swasono, ditujukan untuk Menteri PPN/Ketua BAPPENAS yang dibacakan oleh Sudartomo Macaryus pada 3 Januari 2013 di ruang sidang Kampus UST (Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa).
Banten, 20 Mei 2026

