Mengapa Saya Menulis Puisi “Gunongan Menertawakan Kita”
Oleh: L K Ara
Banda Aceh Gebrak24.com - Saya menulis puisi Gunongan Menertawakan Kita karena saya merasa puisi tidak boleh hanya menjadi hiasan lidah, tetapi harus menjadi suara hati nurani. Di tengah banyak orang sibuk memuji pembangunan, saya melihat tanah justru sedang menangis. Hutan ditebang, sungai dirusak, gunung dijual atas nama investasi, sementara kata-kata “demi rakyat” sering hanya menjadi spanduk yang digantung di depan kerakusan.
Gunongan saya pilih sebagai latar karena ia bukan sekadar bangunan bersejarah di Banda Aceh. Ia adalah saksi. Ia lebih tua dari para pejabat, lebih sabar dari para penguasa, dan lebih jujur daripada banyak pidato. Gunongan telah melihat kerajaan lahir dan runtuh, melihat cinta, perang, tsunami, dan kini ia melihat manusia modern yang sering mengorbankan alam demi keuntungan sesaat. Dalam imajinasi saya, Gunongan tidak marah—ia justru menertawakan kita.
Puisi ini lahir dari suasana Puitika Tanah Rencong, ketika puisi-puisi ekologis seperti “Sobekan Perca Tanah Gayo” dan “Kencing Cukong” dibacakan. Saya melihat bahwa puisi bisa menjadi alarm moral. Ia tidak selalu harus lembut; kadang ia harus tajam, satir, bahkan seperti tamparan. Sebab ada kenyataan yang terlalu pahit untuk dibungkus dengan bunga-bunga romantika.
Saya menggunakan satire karena bangsa ini kadang lebih mudah tersentuh oleh sindiran daripada nasihat. Ketika korupsi dibuka dengan basmalah dan kerusakan alam ditutup dengan foto bersama, maka puisi harus berani menyebut luka dengan namanya. Satire bukan kebencian, melainkan bentuk cinta yang kecewa—cinta kepada negeri, kepada tanah, kepada masa depan anak cucu.
Puisi ini juga ingin mengingatkan bahwa tanah bukan warisan yang bebas dijual, melainkan amanah. Alam bukan barang dagangan, melainkan sahabat hidup. Jika kita terus menanam beton dan menghapus hutan, maka suatu hari yang hilang bukan hanya burung, tetapi juga kemanusiaan kita sendiri.
Saya menulis puisi ini agar Gunongan tidak sendirian menertawakan kita. Agar masih ada yang mau mendengar, sebelum alam memilih berbicara dengan caranya sendiri. ***


