BREAKING NEWS


 

Qurban: Cinta Ditulis dengan Pisau


Umar A Pandrah


I.

Di ujung subuh belum terbit terang,
takbir turun seperti hujan pertama setelah kemarau panjang.
Ia membasahi pelataran, dahi-dahi yang menunduk,
membasahi hati diam-diam sudah lama menyiapkan pisau.

Hari ini dunia berhenti menghitung untung rugi.
Hari ini manusia diajak kembali ke cerita paling tua:
tentang seorang ayah, seorang anak, dan perintah tak masuk akal.
Tentang cinta diuji bukan dengan hadiah,
tapi dengan kehilangan.

II.

Qurban bukan sekadar hewan kau pilih paling sehat,
paling gemuk, paling sempurna tanduknya.
Itu hanya kulit luarnya saja.
Seperti tubuh membungkus ruh,
seperti kata membungkus makna.

Yang sebenarnya kau sembelih di sana adalah dirimu sendiri.
Kau sembelih rasa memiliki selama ini kau kira kebenaran.
Kau sembelih bisik iblis yang berkata:
Ini usahamu. Ini keringatmu. Ini hakmu untuk menggenggam selamanya.

Pisau itu tajam, tapi ia tak menyakitkan.
Yang sakit adalah ketika kau akhirnya jujur pada dirimu:
bahwa selama ini kau lebih mencintai genggaman daripada Pemberi.

III.

Lihatlah Ibrahim berjalan menuju Mina.
Langkahnya tidak goyah.
Bukan karena ia tak sayang Ismail.
Tapi karena ia sudah lebih dulu menyerahkan sayangnya pada lebih layak disayang.


Bayangkan malam-malam sebelum perintah itu datang.
Bayangkan bagaimana Ibrahim memandangi wajah anaknya,
menghitung setiap garis tawa, menyimpan setiap suara di dadanya.
Lalu ketika perintah turun, ia tidak menutup telinga.
Ia berkata: “Wahai anakku, aku bermimpi menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?”

Ismail menjawab dengan kalimat yang merobek langit:
“Wahai ayahku, lakukan apa yang diperintahkan kepadamu.
InsyaAllah kau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Di sanalah qurban sesungguhnya terjadi.
Bukan saat pisau menyentuh leher,
tapi saat dua hati sepakat untuk tidak melawan Tuhan.

IV.

Darah itu jatuh.
Menetes, lalu mengalir, lalu diserap tanah.
Tanah Aceh, tanahmu, tanah mana pun
semuanya sama di hadapan darah yang tulus.

Darah itu tidak berteriak.
Ia hanya menjadi saksi bisu bahwa pernah ada manusia
berani kalah demi menang.
Yang berani kosong demi diisi.
Yang berani mati kecil demi hidup besar.

Dagingnya akan dibagi.
Masuk ke piring-piring yang lama menanti.
Ke rumah-rumah pintunya jarang diketuk rezeki.
Ke senyum-senyum anak yang tak tahu kenapa hari ini ada lauk.

Tulang-tulangnya akan lapuk.
Tapi nama yang disebut bersama takbir tidak akan pernah lapuk.
Allahu Akbar. Allahu Akbar. La ilaha illallah.
Tiga kalimat itu naik lebih tinggi dari asap,
lebih jauh dari bau darah,
lebih kekal dari semua yang bisa kau miliki.

V.

Wahai aku, wahai kita,
jangan kira qurban hanya milik mereka yang punya uang lebih.
Qurban adalah milik setiap hati yang pernah diminta melepaskan.

Mungkin Tuhan tidak pernah memintamu menyembelih anak.
Tapi Dia pernah memintamu menyembelih egomu di rapat itu.
Menyembelih dendam kau pelihara bertahun-tahun.
Menyembelih cinta kau tahu haram, tapi kau pertahankan karena sepi.
Menyembelih ambisi membuatmu lupa sujud.

Itu juga qurban.
Dan lukanya tidak kalah dalam.

VI.

Maka jika hari ini kau menangis,
biarkan air matamu jatuh bersama takbir.
Jika dadamu sesak karena harus melepas,
ingatlah: Tuhan tidak pernah mengambil sesuatu darimu
kecuali untuk menggantinya dengan sesuatu lebih luas.

Ia tidak mengambil Ismail untuk membuat Ibrahim miskin.
Ia mengambil Ismail untuk membuat Ibrahim kaya,
kaya iman, kaya ridha, kaya kepercayaan bahwa tangan-Nya lebih aman
dari tangan siapa pun di dunia ini.

VII.

Qurban mengajariku satu rahasia paling sunyi:
cinta sejati tidak pernah takut kehilangan.
Karena ia tahu alamat pulang dari segala dilepaskan.

Apa kau sembelih karena-Nya,
tidak akan hilang.
Ia hanya berubah bentuk.
Dari hewan menjadi pahala.
Dari kehilangan menjadi kedekatan.
Dari perih menjadi pulang.

VIII.

Maka sembelihlah hari ini.
Sembelih dengan cinta, bukan dengan benci.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar