BREAKING NEWS


 


 

Rayakan HPN , Seniman Aceh 'Hadirkan' Ruh Chairil Anwar dan Hamzah Fansuri di Kantin Taman Budaya Aceh


Oleh: L K Ara

Banda Aceh I Gebrak24.com - Jika Hari Puisi Nasional (HPN) diperingati di kantin sederhana Taman Budaya Aceh, sesungguhnya yang hadir bukan hanya para penyair yang tampak oleh mata, tetapi juga roh-roh besar sastra yang tetap hidup dalam kata. Di antara mereka, terasa sekali bayang Chairil Anwar dan Hamzah Fansuri—dua nama dari dua zaman, tetapi sama-sama menjadikan puisi sebagai jalan keberanian.

Apa kata Chairil?

Barangkali ia akan berdiri dengan suara lantang, seperti dalam puisinya yang terkenal, lalu berkata:

“Aku ingin hidup seribu tahun lagi.”

Bagi Chairil, puisi adalah perlawanan terhadap kematian. Kata-kata menjadi cara manusia melawan lupa. Ia menulis bukan sekadar untuk keindahan, melainkan untuk mengguncang kesadaran. Puisinya penuh gelisah, penuh pemberontakan, dan luka yang tidak mau dipoles menjadi manis.

Chairil percaya bahwa penyair harus jujur, bahkan ketika kejujuran itu terasa pahit. Ia tidak ingin puisi menjadi bunga plastik—cantik, tetapi tak berbau. Ia ingin puisi menjadi api: membakar, menerangi, dan kadang melukai.

Lalu, apa kata Hamzah Fansuri?

Hamzah tidak berteriak. Ia berbisik seperti ombak yang sabar. Puisinya bukan pemberontakan ke luar, melainkan perjalanan ke dalam. Ia berkata:

“Hamzah Fansuri di dalam Mekkah
Mencari Tuhan di Baitul Ka’bah”

Namun akhirnya, ia menemukan bahwa Tuhan bukan hanya di Ka’bah, melainkan juga di dalam diri manusia sendiri.

Bagi Hamzah, puisi adalah zikir. Kata-kata adalah perahu menuju makrifat. Ia menulis dengan jiwa sufi—bahwa manusia hanyalah musafir yang mencari asal dan pulang kepada Yang Maha Esa.

Jika Chairil adalah api,
maka Hamzah adalah air.

Jika Chairil berkata: “Lawan dunia!”

Hamzah berkata: “Kenali dirimu.”

Sesungguhnya sastra Indonesia berdiri di antara dua kutub itu—keberanian melawan zaman dan kerendahan hati mencari Tuhan.

Di Hari Puisi Nasional, keduanya seakan hadir di meja kopi Kantin Taman Budaya.

Chairil mungkin mengetuk meja sambil berkata: “Jangan takut menulis luka.”

Hamzah tersenyum pelan dan menambahkan: “Dan jangan lupa, setiap luka punya jalan pulang kepada-Nya.”

Maka puisi bukan hanya soal kata-kata indah, tetapi soal hidup itu sendiri.

Karena, seperti kata mereka dengan cara yang berbeda, puisi adalah napas manusia yang menolak mati.
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar