Rinduku Pada Pejuang
0 menit baca
Umar A Pandrah
Negeriku tanah menyimpan sunyi,
di bawah nipah dan doa tak henti.
Kutulis rindu padamu syuhada delapan delapan.
Gugur bukan untuk dikenang saja.
Mereka pergi saat subuh masih malu,
langkahnya ringan, tekadnya batu.
Darah mereka jatuh ke pangkuan ibu pertiwi,
tumbuh jadi nyala tak akan mati.
Aku rindu suara takbir yang dulu gagah,
di jalan-jalan kecil menuju syurga.
rindu wajah-wajah yang tak sempat tua,
memilih pulang sebelum dunia meminta.
Wahai syuhada,
kubur engkau bukan nisan semata,
tapi kompas bagi kami yang lalai arahnya.
rinduku bukan air mata,
tapi janji untuk menjaga tanah yang kalian cinta.
wahai generasi bersaksilah,
langit masih menyimpan nama engkau di sisi.
dan kami di sini,
mengirim Fatihah lewat angin yang berlari.
Al-Fatihah para pejuangku.


