BREAKING NEWS


 

Haul Perdana Sultan Al-Malik Ash Shalih Jadi Momentum Kebangkitan Sejarah Samudra Pasai




Aceh Utara I Gebrak24.com – Untuk pertama kalinya, haul (peringatan wafat) Sultan kedua Kesultanan Samudra Pasai, Sultan Muhammad yang bergelar Sultan Al-Malik Ash Shalib, digelar secara resmi di kompleks makamnya di Kecamatan Samudera, Aceh Utara, Rabu (03/06/2026).

Acara perdana ini menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali literasi sejarah kejayaan Islam di Asia Tenggara yang selama ini dinilai mulai usang dan meredup.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kurator Museum Malikussaleh Samudra Pasai sekaligus Koordinator Central Information for Samudra Pasai Heritage (CISAH) Aceh, Sukarna Putra, dalam acara puncak haul yang diisi dengan doa bersama dan santunan anak yatim.

Acara ini dihadiri oleh para alim ulama, tokoh adat, perwakilan Komite Peralihan Aceh (KPA), Panglima Sago, unsur TNI/Polri, insan pers, serta mahasiswa dari UIN Sultan Hasanuddin yang datang khusus ke Aceh.

Sukarna Putra menjelaskan bahwa Sultan Sultan Al-Malik Ash Shalib merupakan putra dari pendiri Kerajaan Samudra Pasai, Sultan Al-Malik Ash-Shalih. Merujuk pada inskripsi kaligrafi Arab kuno pada batu nisan jenis marmer di sisi selatan makamnya, Sultan Muhammad tercatat wafat pada malam Ahad, 12 Dzulhijjah 726 Hijriah (bertepatan dengan hari raya Idul Adha ketiga).

Tahun ini, peringatan tersebut menandai 721 tahun wafatnya sang Sultan.

"Beliau adalah sultan sekaligus penguasa pertama di Asia Tenggara yang menyandang predikat Syahid Fisabilillah. Hal ini diperkuat dengan pahatan ayat Al-Qur'an Surat At-Taubah ayat 22-24 pada bagian utara nisan beliau yang menerangkan tentang pahala bagi orang yang gugur di jalan Allah," ujar Sukarna.

Gelar Al-Malik Az-Zahir bermakna raja yang lahir atau tampak sebagai pemenang (karena berjihad). Sementara gelar Syamsud Dunya wad Din bermakna "Matahari Dunia dan Penerang Agama"

Menurut Sukarna, gelar ini bukan sekadar pujian, melainkan bukti kredibilitas kepemimpinan politik yang matang (umaro) sekaligus kedalaman ilmu agama (ulama).

Sultan Muhammad memerintah selama 29 tahun dalam hitungan Masehi (30 tahun Hijriah), setelah menggantikan ayahnya yang wafat pada tahun 696 Hijriah (1297 Masehi). Di bawah kepemimpinannya, Samudra Pasai menjadi peletak pondasi peradaban Islam yang sangat kuat di Nusantara.

Sukarna meluruskan anggapan bahwa kebesaran Pasai hanya sebatas cerita tutur. Kebesaran ini tercatat dalam dokumen internasional, salah satunya kitab Tuhfatun Nazhar karya penjelajah dunia asal Maroko, Ibnu Battutah, yang pernah menetap di Samudra Pasai selama 15 hari pada masa itu.

Berdasarkan catatan sejarah dan standar kekhalifahan Islam dunia kala itu, seorang penguasa baru diakui sebagai "Sultan" jika memenuhi kriteria ketat, di antaranya Memiliki minimal 10.000 bala tentara perang. Berada di garda terdepan dalam ekspansi wilayah (jihad). dan mampu memperluas wilayah baru yang lebih luas dari sultan sebelumnya.

"Catatan Ibnu Battutah menyebutkan luas wilayah Samudra Pasai membentang hingga 21 hari perjalanan laut menggunakan kapal Jung Tiongkok dengan 12 layar, mencakup wilayah timur hingga ke kawasan Padang Lawas," jelasnya.

Bukti fisik luasnya pengaruh peradaban Samudra Pasai juga dapat dilihat dari sebaran batu nisan tipologi Pasai (batu andesit dengan karakteristik ukiran khusus) yang ditemukan hingga ke Pulau Jawa dan Malaysia. Bahkan, sebelum haul di Aceh ini dilaksanakan, sejumlah masyarakat, santri, dan pengasuh pesantren dari Jawa Timur telah melakukan perjalanan spiritual ke Samudra Pasai untuk berziarah, karena mereka sangat menghormati garis keturunan sultan-sultan Pasai.

Melalui momentum haul yang ke-721 ini, Sukarna Putra mengajak seluruh elemen masyarakat Aceh dan dunia Islam untuk menjaga situs sejarah ini, mendoakan para syuhada, serta meneladani jejak kepemimpinan emas Sultan Al-Malik Ash Shalib. (tim/red)
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar