Jacob Ereste : Suasana Hangat Diskusi GMRI di Kediaman Prof Ana Mariana, Dihadiri Sederet Tokoh Penting
Ragunan I Gebrak24.com - Pertemuan rutin 2 kali seminggu GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) setiap Senin-Kamis, 1 Juni 2026 di Sekretariat GMRI Jl. Ir. H. Juanda No. 4 A, Jakarta Pusat disambangi Joyo Yudhantoro bersama laskar Srikandinya sambil menikmati minuman sehat beras kencur made in Mbak Ning yang spesial menyehatkan tubuh hingga terasa kembali menjadi awet muda. Padahal, sang permaisuri Joyo Yudhantoro, berkilah tentang kesan awet muda itu jelas akan ditandai oleh semangat aktivitas, seperti yang dilakukan dengan mengunjungi sejumlah sahabat dan kerabat sambil memaknai hari peringatan kelahiran Pancasilsa agar tidak berhenti pada hafalan dan slogan semata. Karena Pancasila sebagai pandangan hidup harus diamalkan dalam perilaku dan perbuatan yanflg nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Usai ngobrol santai di Sekretariat GMRI,
Sahabat dan kerabat berlanjut menyambangi kediaman Bunda Prof. Dr. Ana Mariana SH., MH., M.BA, di kawasan Puri Ampera, Ragunan, Jalarta Selatan, hingga asyik ngobrol sampai menjelang dini hari.
Ombrolan yang asyik dan menyenangkan ini dimulai pukul 19.30 yang ditimpali Dr. Tjokirda Ngurah Agung Kesumayudha SH.,
M.Sc. bersama rombongan Gus Hery Haryanto Azumi tokoh muda Nahdatul Ulama yang cukup luas memiliki jaringan serta pengalaman spiritual, hingga Sri Eko Sriyanto Galgendu sebagai Pemimpin Spiritual Nusantara seperti menemukan tempat yang tepat untuk memaparkan program utama GMRI untuk melakukan diplomasi spiritual global yang akan segera dilakukan dengan mengunjungi sejumlah negara yang konsens terhadap gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiliritual untuk menjawab tantangan jaman dengan tidak abai pada nilai-nilai spiritual sebagai penjaga etika, moral dan akhlak mulia manusia yang mendapat rahmat dari Allah SWT sebagai wakil Tuhan di bumi.
Fitrah bawaan manusia yang dibekali oleh Tuhan sebagai khalifahtullah, patut dijaga dan disyukuri agar tidak sampai kehilangan jati diri, seperti " Tri Tangtu Tungga Buana" atau "Tri Hita Karana" yang menandai kekuatan budaya dan tradisi Suku Bangsa Sunda dan Bali yang memiliki kekuatan dan ketangguhan budaya, karena manusia menyadari bahwa alam, manusia dan Tuhan memiliki ikatan kesatuan yang erat-- seperti keyakinan Suku Bangsa Sunda dan Bali tersebut yang bisa berjaya dan kuat menampilkan budaya khas lokal.
Agaknya, ini pula yang menjadi pengikat budaya bagi masyarakat Bali dan Sunda, sehingga pematung Nyoman Nuarta mempersembahkan karya Maung yang terpajang di jalan raya depan Pesanggrahan Pangeran Djatikusumo yang telah diresmikan pada beberapa tahun silam.
Falsafah yang menggambarkan ketiga unsur yang harmoni ini disebut oleh Suku Bangsa Bali "Tri Hita Karana" adalah dasar kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang sangat pasih diurai oleh Dr. Tjokorda Ngurah Agung Kesumayudha, sosok terkuat yang diusulkan banyak pihak untuk menjabat Jaksa Agung RI. Katena beliau memang punya pemahaman yang luas tentang berbagai soal, termasuk Islam yang sudah rampung dia tunaikan rukunnya yang kelima, ibadhah haji.
Prof. Ana Mariana, pun sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI, aktif memberikan komentar dan pwndapat bahkan menjawab sejumlah pertanyaan dalam acara ngobral santai hingga menjelang dini sambil melakujan santap malam bersama, seakan mengingatkan dalam tradisi makan sahur.
Pada intinya, gerakan kesadaran pemahaman spiritual sepakat akan semakin diperluas, terutama untuk menjadi basis pertahanan budaya yang senantiasa mengedepankan etika, moral dan akhlak mulia manusia untuk dapat mewujudkan rahmatan lil alamin, bagi semua manusia yang ada di muka bumi. ***
Ragunan, 1 Juni 2026

